Pernahkah kita
bertanya-tana, bagaimana sebenarnya kemampuan anak-anak usia sekolah di
Indonesia jika disandingkan dengan remaja sebaya mereka dari berbagai belahan
dunia?
Ibarat ujian
nasional berskala global, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi
(OECD) kembali mengukur kemampuan siswa usia 15 tahun di puluhan negara melalui
ajang PISA (Programme for International Student Assessment). Laporan
PISA 2025 yang baru saja dirilis menghadirkan cermin besar bagi dunia
pendidikan kita: ada berita gembira yang patut disyukuri, tetapi ada pula lampu
kuning yang tak boleh diabaikan.
Tiga Kunci Utama Skor Akademik
1. Sains:
Penggerak Utama yang Naik Kelas
Pada tes kali ini, sains menjadi fokus utama penilaian. Berita baiknya,
skor sains siswa Indonesia naik +6 poin menjadi 389. Anak-anak
kita makin cakap memahami fenomena alam, analisis ilmiah, dan isu-isu
lingkungan.
2.
Membaca: Bangkit di Tengah Tren Dunia yang
Turun
Skor literasi membaca ikut terdongkrak +7 poin menjadi 365.
Pencapaian ini terbilang istimewa karena di saat banyak negara mengalami
penurunan minat dan kemampuan membaca pasca-pandemi, anak-anak Indonesia justru
menunjukkan pemulihan yang positif.
3. Matematika:
Masih Menjadi Tantangan Besar
Sayangnya, cerita berbeda datang dari bidang matematika. Skor numerasi
kita mengalami sedikit penurunan sebesar -2 poin menjadi 364. Hal
ini mengisyaratkan bahwa logika berpikir matematis dan pemecahan masalah angka
masih menjadi hambatan yang butuh pendekatan mengajar yang lebih menyenangkan.
Mampu Berpikir Komputasional
Ada satu hal
menarik dari asesmen kali ini. PISA mengukur kemampuan siswa dalam Pemecahan
Masalah Komputasi (Computational Problem Solving).
Indonesia
berhasil membukukan skor 427 poin. Angka ini ter tergolong
menggembirakan karena jauh melampaui ekspektasi jika dibandingkan dengan skor
dasar sains anak-anak kita. Artinya, remaja Indonesia sebenarnya memiliki bakat
alami yang sangat baik dalam berpikir logis, runtut, dan memanfaatkan logika
teknologi untuk menyelesaikan masalah.
PR Terbesar: Kesenjangan
Antara Kota dan Daerah
Di balik kabar
naik tingkatnya skor sains dan membaca, PISA 2025 menyikapkan satu fakta pahit:
jurang kesenjangan sosial-ekonomi yang semakin melebar.
1. Siswa
Berdaya Tahan Tinggi
Sekitar
15,4% siswa dari keluarga dengan ekonomi terbatas terbukti memiliki resiliensi
akademik—mampu mengukir prestasi baik meski belajar dengan fasilitas serba
minim.
- Lebarnya Jurang Capaian
Jarak skor antara siswa dari keluarga berkecukupan (advantaged)
dengan siswa kurang mampu (disadvantaged) mencapai 47 poin.
- Ketimpangan laju
Selama tiga tahun terakhir, skor siswa dari keluarga kurang mampu hanya
naik 2 poin, sedangkan skor siswa berkecukupan melonjak hingga 17 poin.
Kesenjangan ini menandakan bahwa akses terhadap pendidikan berkualitas belum
sepenuhnya dirasakan merata oleh seluruh anak bangsa.
Sisi Humanis: Guru yang
Mendorong dan Anak yang Makin Gigih
PISA tidak hanya menguji lembar
kertas tes, tetapi juga memotret suasana batin dan lingkungan ruang kelas
tempat anak-anak kita belajar.
1. Dukungan
Guru Meningkat Pesat
Indonesia
mencatatkan peningkatan tertinggi dalam hal persepsi dukungan guru.
Siswa merasa guru-guru sains mereka semakin perhatian, sabar, dan hadir
mendampingi proses belajar.
- Semangat Pantang Menyerah
Jumlah siswa yang mengaku rela mengeluarkan usaha ekstra saat
menghadapi pelajaran sulit meningkat signifikan.
- Cinta Lingkungan
Luar biasanya, lebih dari 90% siswa Indonesia bercita-cita ingin
memilih karir masa depan yang berdampak pada kelestarian lingkungan—jauh di
atas rata-rata internasional.
Catatan Akhir
Hasil PISA
2025 menegaskan bahwa arah perbaikan literasi dan sains kita sudah berada di
jalur yang benar. Namun, perjuangan belum selesai.
Tugas besar
kita sebagai bangsa bukan sekadar mengejar deretan angka peringkat, melainkan
memastikan tidak ada satu pun anak di pelosok negeri yang tertinggal dari
fasilitas, guru berkualitas, dan kesempatan belajar yang setara.


Tidak ada komentar