Di sebuah meja makan yang tegang,
selembar formulir pendaftaran kuliah menjadi saksi bisu sebuah perang dingin.
Seorang anak perempuan berusia delapan belas tahun menatap nanar pilihan
jurusan yang telah dicentang rapi oleh ayahnya: Fakultas Kedokteran. Di
bawah meja, jemarinya meremas sebuah buku sketsa berisi potret rancangan busana
dan arsitektur kota. Dunia garis, ruang, dan estetika yang selama ini membuat
matanya hidup.
Ketika ia memberanikan diri
berbisik, "Yah, saya mau masuk Desain Interior," sang ayah langsung
menggebrak meja. "Mau jadi apa kamu? Gambar-gambar begitu tidak ada masa
depannya! Papa dulu gagal jadi dokter karena tidak ada biaya. Sekarang Papa
punya uang, kamu harus jadi dokter. Titik! Ini demi kebaikanmu dan nama baik
keluarga." Anak perempuan itu terdiam. Malam itu, mimpinya runtuh, bukan
karena ia tidak mampu, melainkan karena ia harus mengalah pada sebuah berhala
bernama ego orang tua.
Ini adalah pemandangan yang
teramat sering terjadi di tengah masyarakat kita. Institusi keluarga, yang
seharusnya menjadi landasan pertama bagi anak untuk mengepakkan sayap dan
terbang mengejar takdirnya, kerap berubah menjadi landasan pacu yang memotong
sayap-sayap itu secara paksa. Banyak anak berjalan meniti tangga pendidikan
bukan untuk menemukan siapa diri mereka, melainkan untuk melunasi utang
kegagalan masa lalu orang tua mereka atau sekadar menjadi piala gengsi di
arisan keluarga.
Warisan Penyesalan dan Berhala
Gengsi
Fenomena pemaksaan kehendak
akademik oleh orang tua ini berakar dari dua penyakit psikologis: penyesalan
masa lalu yang belum berdamai (unfulfilled dreams) dan kecanduan akan
validasi sosial (gengsi).
Mari kita bedah contoh nyata dari
penyakit pertama. Banyak orang tua yang di masa mudanya memiliki cita-cita
besar namun kandas karena keterbatasan ekonomi, situasi politik, atau kegagalan
personal. Bukannya berdamai dengan sejarah hidupnya sendiri, mereka justru
memperlakukan anak mereka sebagai "kesempatan kedua". Anak dipaksa
memikul beban untuk menyelesaikan ambisi yang gagal dicapai orang tuanya. Jika
si ayah dulu gagal menjadi polisi, anak laki-lakinya akan dipaksa masuk akademi
kepolisian, terlepas dari fakta bahwa anak tersebut bertubuh ringkih dan lebih
mencintai dunia sastra. Anak dipaksa hidup dalam naskah hidup orang lain.
Penyakit kedua yang tak kalah
akut adalah gengsi sosial. Di masyarakat kita, ada stratifikasi sosial yang
aneh mengenai profesi. Menjadi dokter, insinyur, PNS, atau aparat dipandang
sebagai kasta tertinggi yang mendongkrak martabat keluarga. Contoh rill di
lapangan: saat musim kelulusan sekolah tiba, grup-grup WhatsApp keluarga atau
media sosial dipenuhi ajang pamer terselubung. Orang tua merasa harga dirinya
melesat jika bisa mengumumkan, "Alhamdulillah, anak saya diterima di
Hukum Universitas Favorit."
Demi mendapatkan momen pamer itu,
mereka menutup mata pada tangisan anak yang menderita di kamar karena harus
menghafal pasal-pasal hukum yang sangat ia benci. Mereka tidak peduli jika anak
mereka masuk ke jurusan tersebut lewat jalur stres, depresi, atau bahkan
menyuap, asalkan gengsi orang tua di mata tetangga tetap terjaga.
Prostitusi Bakat dan Generasi
yang Jiwanya Mati
Ketika anak dipaksa menekuni
bidang yang bertolak belakang dengan panggilan jiwanya, dampak destruktifnya
akan terlihat jelas di panggung perguruan tinggi hingga dunia kerja. Kita
sedang memanen generasi yang mengalami "prostitusi bakat"—mereka
menjual waktu dan pikirannya untuk sesuatu yang tidak mereka cintai demi
menyenangkan orang lain.
Contoh nyata yang sering ditemui
para dosen di universitas adalah fenomena "mahasiswa salah jurusan"
yang akut. Mereka adalah anak-anak yang kuliah dengan tubuh fisik yang hadir di
ruang kelas, namun jiwanya entah di mana. Mereka sering membolos, mengumpulkan
tugas seadanya, dan memiliki indeks prestasi yang hancur. Ketika diajak
berbicara dari hati ke hati, jawaban mereka seragam: "Saya kuliah di
sini cuma buat nyenengin Mama, Pak. Kalau saya sudah lulus dan pegang ijazah
ini, terserah Mama mau diapakan, setelah itu saya mau kejar mimpi saya
sendiri." Sungguh sebuah pemborosan energi, waktu, dan biaya yang luar
biasa tragis.
Lebih jauh lagi, pemaksaan ini
melahirkan profesional-profesional yang mati rasa di masa depan. Kita melihat
ada dokter yang melayani pasien dengan ketus dan tanpa empati, karena ia
terpaksa menjadi dokter demi ambisi ibunya. Kita melihat ada akuntan yang korup
atau insinyur yang bekerja asal-asalan, karena pekerjaan itu tidak pernah
memberikan mereka kebahagiaan batin. Ambisi orang tua yang mematikan mimpi anak
sejak dini pada akhirnya ikut menyumbang pada lahirnya masyarakat dewasa yang
sinis, stres, dan kehilangan gairah hidup (passionless society).
Kolom Refleksi Inti
"Apakah anak ini lahir
sebagai perpanjangan ego kita, atau sebagai manusia merdeka dengan takdirnya
sendiri?"
Penyair besar Kahlil Gibran
pernah menulis untaian kalimat yang sangat indah sekaligus menampar: "Anak-anakmu
bukanlah anak-anakmu. Mereka adalah putra-putri kerinduan kehidupan terhadap
dirinya sendiri. Mereka lahir melaluimu, tapi bukan darimu. Kamu dapat
memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu, karena mereka memiliki pikiran mereka
sendiri."
Mari kita merenung dengan jujur
di kesunyian hati kita: ketika kita memaksa anak kita mengambil jalan hidup
yang kita pilihkan, apakah kita benar-benar sedang memikirkan kebahagiaan masa
depan mereka? Ataukah kita sebenarnya sedang egois, menggunakan tubuh dan masa
depan mereka untuk menyembuhkan luka kegagalan kita sendiri atau memuaskan
pandangan mata tetangga?
Anak kita bukanlah selembar
kertas kosong yang bebas kita tulisi dengan cita-cita kita yang belum
kesampaian. Mereka adalah benih unik yang sudah membawa cetak birunya sendiri
dari Tuhan. Jika mereka terlahir sebagai benih mawar, jangan paksa mereka menjadi
pohon beringin yang kokoh. Jika mereka terlahir sebagai burung cemara yang
pandai bernyanyi, jangan penjarakan mereka di dalam kolam untuk menjadi ikan
perenang. Tugas kita sebagai orang tua bukanlah mendikte takdir mereka,
melainkan menjadi tanah yang subur, air yang jernih, dan pelindung yang hangat
agar benih unik itu bisa tumbuh menjadi dirinya yang paling maksimal. Merdeka,
bahagia, dan tegak berdiri di atas kakinya sendiri.


Tidak ada komentar