Ketika Guru Berhenti Belajar: Catatan Bambang Kariyawan Ys.

 



Di sebuah sudut ruang guru, seorang pendidik senior dengan masa kerja lebih dari dua dekade menggeser kacamatanya ke ujung hidung. Di hadapannya, seorang guru muda yang baru lulus kuliah sedang dengan antusias memaparkan sebuah metode pembelajaran interaktif berbasis simulasi digital dan diskusi kelompok terfokus. Guru senior itu mendengarkan sembari tersenyum tipis, senyuman yang lebih condong ke arah sinisme daripada apresiasi.

"Nak," ujar sang guru senior sambil menepuk pundak koleganya yang muda itu, "Metode-metode modern seperti itu hanya indah di atas kertas pelatihan. Saya sudah mengajar dengan cara mendikte dan menulis di papan tulis sejak kamu belum lahir, dan murid-murid saya tetap ada yang jadi dokter dan pegawai bank. Tidak usah membuat hidup kita lebih rumit dengan teknologi yang berubah setiap tahun."

Percakapan singkat ini adalah jendela dari sebuah realitas yang jamak terjadi di ruang-ruang guru kita: munculnya sindrom kenyamanan (comfort zone syndrome) yang melahirkan resistensi akut terhadap perubahan. Ada sekat tebal yang memisahkan antara laju perkembangan zaman yang eksponensial dengan kejegan metode pengajaran di dalam kelas. Ketika dunia di luar pagar sekolah telah melesat mengadopsi kecerdasan buatan, realitas virtual, dan pembelajaran berbasis masalah, sebagian ruang kelas kita masih dirawat laksana museum masa lalu. Kita sedang menghadapi kondisi mengkhawatirkan di mana sebagian penuntun arah generasi justru telah memilih untuk berhenti berjalan dan menutup mata dari ilmu-ilmu baru.

Jebakan Pengalaman dan Alergi Perubahan

Pengalaman kerja puluhan tahun adalah aset yang sangat berharga dalam dunia pendidikan, namun ia bisa berubah menjadi jebakan batman jika tidak dibarengi dengan kerendahan hati untuk terus belajar (lifelong learning). Banyak pendidik terjebak dalam mitos bahwa menjadi "senior" berarti telah menguasai seluruh kebenaran pedagogi.

Contoh nyata yang paling sering kita jumpai di masyarakat adalah penolakan implisit maupun eksplisit terhadap pemanfaatan teknologi informasi dalam pembelajaran. Ketika platform digital kementerian atau metode pembelajaran baru diluncurkan, guru-guru yang mengidap sindrom ini akan langsung mengandalkan alasan klasik: "faktor usia" atau "gagap teknologi" (gaptek) sebagai tameng pembenaran untuk tidak mau berubah. Alih-alih meluangkan waktu satu atau dua jam untuk mempelajari cara kerja sebuah aplikasi interaktif atau metode asesmen baru, mereka lebih memilih untuk meminta bantuan guru honorer muda untuk mengisikan data mereka, sementara metode mengajar mereka di kelas tidak berubah sedikit pun.

Resistensi ini tidak hanya terjadi pada aspek teknologi, melainkan juga pada pola pikir (mindset). Contoh rill di ruang kelas: masih banyak guru yang alergi ketika argumennya didebat oleh murid. Mengajar masih dipandang sebagai proses satu arah (monolog) di mana guru adalah satu-satunya sumber kebenaran mutlak di dalam ruangan (the sage on the stage). Ketika ada murid kritis yang menyodorkan data atau perspektif baru yang mereka temukan dari jurnal daring atau internet, guru yang berhenti belajar akan cenderung merasa otoritasnya terancam. Respons yang keluar pun sering kali bersifat represif, seperti menyuruh murid tersebut diam atau memberinya label "anak pembangkang".

Dampak Berantai bagi Generasi Masa Depan

Ketika seorang guru memutuskan untuk berhenti memperbarui pengetahuannya, efek dominonya langsung menghantam murid-murid di dalam kelas. Mereka dipaksa mengonsumsi informasi yang sudah kedaluwarsa dengan cara penyampaian yang menjemukan.

Mari kita lihat contoh konkret pada materi pelajaran kejuruan atau sains. Seorang guru komputer yang tidak pernah memperbarui ilmunya mungkin masih mengajarkan bahasa pemrograman atau perangkat lunak yang sudah tidak lagi digunakan oleh industri selama satu dekade terakhir. Atau seorang guru ekonomi yang masih menggunakan contoh-contoh kasus konvensional pra-era e-commerce dan finansial teknologi. Akibatnya, terjadi kesenjangan yang luar biasa besar (link and match yang putus) antara apa yang dipelajari anak di sekolah dengan apa yang dibutuhkan dunia nyata saat mereka lulus.

Lebih dari sekadar materi, guru yang berhenti belajar akan kehilangan kemampuan untuk memahami bahasa psikologis generasinya. Generasi Z dan Alpha memiliki karakteristik, tantangan mental, dan cara menyerap informasi yang sangat berbeda dengan generasi masa lalu. Mengajar anak-anak abad ke-21 dengan menggunakan metode abad ke-20 dan cara berpikir abad ke-19 adalah sebuah kegagalan pedagogis yang nyata. Sekolah tidak lagi menjadi tempat yang mencerahkan, melainkan sebuah ruang yang membelenggu potensi alami anak-anak untuk berkembang secara relevan.

Kolom Refleksi Inti

"Jika pengajar telah berhenti belajar, dengan hak apa dia melanjutkan mengajar?"

Kata "Guru" dalam tradisi luhur Nusantara bermakna digugu dan ditiru, dipercaya ucapannya dan dicontoh perilakunya. Menjadi seorang pendidik adalah sebuah janji sakral untuk menjadi pemandu jiwa. Bagaimana mungkin seorang pemandu jalan bisa mengantarkan orang lain ke tempat tujuan yang baru jika dia sendiri menolak untuk memperbarui petanya yang sudah usang dan robek?

Ketika kita memilih profesi sebagai guru, pada detik yang sama kita sebenarnya sedang menandatangani kontrak seumur hidup untuk menjadi seorang murid. Belajar tidak berhenti saat selembar ijazah sarjana atau sertifikat pendidik diraih.

Kehormatan seorang guru tidak terletak pada berapa tahun masa kerjanya atau seberapa tinggi pangkat golongannya, melainkan pada binar mata rasa ingin tahunya yang tetap menyala meskipun rambutnya telah memutih. Jika di dalam hati kita telah mati rasa untuk mempelajari hal baru, jika kita merasa sudah tahu segalanya dan enggan mendengarkan perkembangan zaman, maka sesungguhnya kita telah kehilangan legitimasi moral untuk berdiri di depan kelas. Berhentilah menjadi dinding penghalang bagi kemajuan anak-anak kita; mulailah kembali belajar, agar kita bisa terus mengajar dengan nyala api yang menghidupkan.

 

Tidak ada komentar