22 Kumcer (Kumpulan Cerita): Sekelumit Cerita di Kehidupan Nyata: oleh Kang Thohir


Sumber: Pinterest


Part 1. Tentang Arunika 

Arunika berkata kepada Swastamita:

"Esok kita akan ada rindu saat kita melambai perpisahan jarak dan waktu."

Kaca mata perpisahan diakhir temu membuat asa itu kian sirna saat diri ini tak lagi bersua.

Melawan arusnya waktu dan termakan zaman, kata itu masih melekat di telinga saat kita perpisahan. Namun, dihalangi oleh dinding dan waktu hingga sulit bertemu.

Betapa rindu ini kian menggebu saat membayangkan wajahmu yang ayu dari bilik kamar dan aku bercerminkan diri, namun cermin itu nampak wajahmu, oh Arunika.


Part 2. Ditanya Nikah 

Banyak yang bilang kepadaku:

"Hir, kapan lu nikahnya?"

Aku hanya bisa berdiam saja dan mlongo, meski aku dianggap plonga-plongo.

Sejak itu aku selalu cuek saat ditanyain seperti itu, bukan berarti aku sombong karena aku tak ingin dikata pembohong sebab tak pasti.

Jiwa ini sebenarnya ingin bermadu kasih pada malam pertama, namun karena hal lain membuat aku tak bisa. Ah, entahlah, aku hanya bisa berkhayal saja sambil menatap rembulan dan bintang dari kejauhan.

Semoga saja ada kebahagiaan.


Part 3. Sahabat Penyemangat

"Hir, kau harus semangat!" Kata temanku di balik cerita.

Ada sebagian orang yang memotivasi dan mencaci-maki, ya mungkin itu sebagai perlengkapan dari kekurangan dan kelebihan itu sendiri.

Saat ini masih saja kecewa dengan asa yang lalu, karena sering di PHP-in pada diriku sendiri bahwa hari ini aku selalu ada menjagamu, eh nyatanya PHP-in doang.

Sejak itulah aku sering merenung dan berdiam di balik jeruji waktu, hanya bisa menunggu dan menunggu.

Kapan aku bisa keluar bersuka ria bersama temanku seperti dulu?

Namun, harapan itu telah pupus saat sang senja menyapa, sehingga aku tak dapat menikmati hariku yang penuh bahagia itu, ya mungkin aku belum ditakdirkan. Kini, hariku bersama sang senja.


Part 4. Kebaikan Dicampakkan 

Kebaikan untuk dicampakkan rasanya menyakitkan, seperti aku yang kurasakan dalam setiap belas kasihan pada orang yang disayangi. Namun, nyatanya malah memukul dari belakang atau istilahnya diberi hati mintanya jantung, atau ditulung malah mentung.

Aku sebenarnya sangat tak menyukai hal itu dan kecewa, karena itu sebuah pengkhianatan dan dusta.

Aku lebih baik berlari dari kejaran durjana daripada merana.

Mungkin ini aku tak berdaya, ya seperti diremas harga diri di antara kehormatan yang selalu disepelekan dan diinjak-injak seperti keset depan rumah mewah. Secuil pun tak ada rasa iba dan nurani, karena yang di pikirannya itu soal harta; bukan lagi cinta.

Begitu aku memandangnya seperti cuaca panas dan mendung dengan petir yang menghujam, aku ketakutan saat menatapnya.


Part 5. Tertawa Hanya Sebentar 

Tertawa hanya sebentar di saat ada jeda. Aku terhempas pada bisikan angin lalu, meski tak dapat kutatap, ya jiwa ini yang merasakannya.

Alibi terus ada pada setiap masalah supaya tak kasat mata kedustaannya. Jarak boleh berbeda di saat terpejam mata oleh dinding waktu.

Menoleh ke belakang dan ke samping sama saja dibuatnya tak dapat dibuktikan, hanya saja satu yang bisa dibuktikan yaitu terus melangkah ke depan sambil berkata;

"Aku harus bisa menunjukkan kebenaran, harus!"

Teriakan semangat itu jiwa ini begitu menggema. Meski kadang dicerca pada manusia munafik dan durjana. Akan tetapi, itu sebuah tantangan pada setiap perjalanan yang kadang macet, mogok, salah arah, dan banyak tikungan.


Part 6. Wong Ora Ngerti (Orang Tidak Tahu)

Aku memang wong ora ngerti, makanya aku selalu minder diri dan instrospeksi diri.

Setelah itu aku pelajari semuanya, dan menjadi sebuah cerita dan bahan renungan.

Jika aku memang bodoh, ya begitulah aku apa adanya dan lugu, sehingga sering dimanfaatkan orang lain. Akan tetapi, aku juga sering diam diri supaya berhati-hati agar tak terjerumus kedalamnya, yang merusak semangat dan hati. Hem, memang benar orang semacamku sering dimanfaatkan orang lain.

Aku pun tak bisa berbuat apa-apa, karena aku bingung harus bagaimana selain hanya menangis bersedu-sedu. Ah, entahlah, aku hanya menatap ini semua yang pilu.


Part 7. Lewat Pasar Itu

Ketika aku lewat ke pasar itu hanya untuk lewat aja dan menemui sesuatu yang aku tuju di utara, eh tiba-tiba ada yang manggil-manggil namaku:

"Ir, Tair! Ir!" Teriaknya salah satu orang yang ada di pasar itu. Hem, aku pun sempat bingung mau berhenti atau terus melaju, ya? Sambil nengak-nengok ke kiri dan ke depan.

Akhirnya aku bertekad untuk tidak peduli hal itu dan aku pun melaju lagi.

Aku bukannya sombong atau apalah, ya karena soal hati dan terlalu kecewa yang sudah lama retak, dan tak bisa kembali lagi seperti semula dengan utuh.

Hem, entahlah!


Part 8. Jalan-jalan Naik Motor 

Hari pagi menatap kebahagiaan dengan jalan-jalan naik motor lewat pasar itu, dan keramaian di antara orang-orang berkumpul 'tuk belanja dan lewat.

Aku melintasi mereka-mereka; 

"Ir, ora mampir tuku ndisit?" sapa mereka menawarkan dagangannya.

"Mboten; ngapuntene, nggih," jawabku pada pedagang itu.

Aku pun melirak-melirik ke kanan dan ke kiri, untuk mencari buah-buahan yang aku tuju.

Pada akhirnya aku tak menemukan buah itu yang aku cari dan aku tuju. Hem!


Part 9. Orang Tanya Istri 

"Ir, bojone kowen mendi?" salah satu orang menanyakanku.

"Lagi kerja neng toko," jawabku.

Padahal aku lagi tidak karuan, tapi ditanya terus soal itu. Hem!

"Oh, neng toko endi?" tanya lagi.

"Neng Pasar Ketimbreng, tokone Pak Sofari," jawabku, sambil berjalan di pinggir jalan depan rumah.

Aku pun hanya bisa menjawab itu-itu terus ketika aku ditanya soal itu, karena aku dan dia sudah lama berpisah, tapi mengapa orang-orang masih menanyakan soal itu?

Apa mungkin mereka tidak tahu, yah?

Kalau nggak tahu berarti mereka tidak kepo lagi dengan urusan orang lain dong, dan aku nggak ada ruang untuk bercerita lagi untuknya, lebih baik aku saja dan fokus pada masa depan dan menata hidup yang baru atau lembaran baru.


Part 10. Pulang dari Kondangan 

Setelah pulang dari kondangan di Kupu Utara pebatasan Kupu dan Dumeling, aku hanya lewat saja tak mampir di situ, eh tiba-tiba ada yang manggil-manggil namaku;

"Ir!" teriak salah satu orang yang ada di Pasar Ketimbreng.

Aku spontan pencet klakson motor Beat merah, meski aku tak berhenti hanya menengok saja.

Dan Setelah sampai di rumah, tapi di rumahnya Kakak perempuan aku di warungnya untuk mengantarkan titipan kondangannya.

"Eh, ternyata ada Bang Junaid di sini."

Seorang pedagang gonjing sambal langgananku yang habis makan di warung Bu Ida:

"Hei, Ir, kata-kata dong; oh kas kondangan, nggo aku, ya, Ir atau Thohir?" tanyanya dengan seribu tanya. Hem!


Part 11. Bakso Ikan Kok Digaji?

Bakso ikan kok digaji?

Aku pun bingung, akhirnya aku beli juga:

"Bu, beli baksonya 10 ribu," tukasku, dengan agak penasaran.

"Pakai gaji atau tidak, Kang?" tanya pedagangnya.

"Emang baksonya sudah kerja ya, Bu?" tanyaku.

"Kenapa gitu, Kang?" tanya balik.

"Nah, itu baksonya digaji," jawabku. Dengan begitu dia bingung dan aku juga bingung. Ah, entahlah. Hehehe.


Part 12. Ditinggal Tamu Ketika Aku Do'a

Ketika itu aku sedang kedatangan tamu. Setelah berbincang-bincang masalah menulis buku, akhirnya jam sholat pun tiba tepat waktu.

Aku dan tamu bergegas ke masjid. Ya, cukup jauh berjalan kaki, sambil berjalan menuju masjid. Aku masih berbincang-bincang lagi. Setelah sampai di masjid. Kami berwudhu dan sholat sang tamu menyuruhku sebagai imamnya.

Padahal mereka lebih tua dariku? Ya, namanya juga perintah aku turutin--lah.

Hehehe. Aku jadi imam untuk mereka.

Setelah sholat selesai. Biasanya ada wirid dan do'a. Nah, di situlah aku wirid dan berdo'a, aku pun berdo'a dengan agak keras agar bisa didengar oleh mereka. 

Aku rasa enggak ada yang respon sama mereka. Mengucapkan amin atau mengaminin gitu? Ketika aku selesai,

eh, ternyata mereka sudah enggak ada, alias pergi meninggalkanku.

Aku sebenarnya malu banget. Berarti dari tadi aku hanya sendirian; wirid sendiri dan berdo'a sendiri. Hem!

Ya, begitulah namanya juga imam amatiran seperti saya ini. Hehehe.


Part 13. Ternyata Mereka Ikut-ikutan 

Ternyata mereka ikut-ikutan. Cara untuk bertindak dan berpakaian, dari minum dan makan. Entah, itu sebuah kebetulan.

Pada akhirnya aku terus diperhatikan, ketika aku keluar persinggahan. Mungkin, karena iri atau ngefans kali, ya?

Namun itu adalah sebuah kebagusan.

Ya, sudahlah. Biarkan saja. Hehehe.


Part 14. Lukisan Kaligrafi Waktu di Pondok-pesantren 

Tahun 2014 aku pernah bikin lukisan kaligrafi waktu aku di pondok pesantren dengan penuh harapan aku membuatnya. Di sudut malam dan kamar pondok, meski hasilnya tidak bagus dan bengkok, membuat aku puas dan juga bangga. Terasa lepas dan bebas.

Aku memberi bingkai di lukisannya agar bisa dibawa pulang, untuk dipajang.

Itulah karyaku yang pertama, meski sering dihina dan direndahkan. Ya, itu hasil karyaku. Entah, orang-orang mau berkata apa; yang penting berkarya. 


Part 15. Cerita Tentang Mas dan Adek 


"Mas," sapa adek.

"Dalem, Dek," jawabku.

Duh, berdegup kencang jantung ini di dada.

"Jalan-jalan yu, Mas!"

"Maring endi, Dek?"

"Maring alun-alun Brebes yuh, nonton festival Bawang Merah lan konsere Gilga Sahid, Mas,"

"Ayuh, Dek!"

Dengan senang hati aku menurutinya, kapan aku bisa begini nonton bareng sama adek membuat hidup ini begitu indah dan cerah asal selalu bersamamu. Hehehe.

*

Perjalanan dari desa Kupu ke alun-alun Brebes bersama adek dengan berboncengan motor penuh harmonis nan indah, itu mengapa aku selalu ingin bersamamu, Dek. Hehehe.

"Wis anjog, Dek!"

"Ayuh, Mas, masuk maring panggunge?"

"Ngko Dek, Mas pan parkir motor ndisit,"

"Nggih, aku ngenteni neng kene ya, Mas?"

"Ya, Dek."

Aku pun segera memparkirkan motorku ini, ya walaupun ramai sekali penontonnya asal aku bisa bersamamu di sini, bernyanyi bersama, bergoyang-goyang bersama, dan menyapa teman yang ada. Hehehe.


Part 16. Cerita tentang Kebakaran

Waktu itu sekitar jam delapan malam, kami baru nyampai di Pesantunan. Kami pun bertiga berbincang-bincang soal masalah karya. 

Selang beberapa lama kemudian; Pak Eko mendapat kabar dari sebuah panggilan, bahwa rumah Pak Eko yang di desa Pebatan mengalami kebakaran. Kita langsung bergegas ke tempat kejadian. Ya, meski sang tuan rumah di desa Pesantunan sudah mau menyuguhi bakso yang sudah datang.

Akhirnya kami harus pamit pulang dulu dengan berboncengan motor, dengan jalan yang terburu-buru karena panik. Sampai ada terjangan pun tak melirik.

Aku pun was-was, saat aku berboncengan dengannya. Takut jatuh di jalan, karena Pak Eko--nya terlalu cepat dengan melaju yang begitu teramat kencang. Membuat aku tegang.

Akhirnya kita sampai di lokasi kejadian,

Aku pun turun di gerbang utama. Pak Eko segera masuk ke rumahnya tuk mengecek isi dalam rumahnya. Ya, waktu itu rumahnya gelap. Dengan bermodalkan lampu Handphone (HP),  beliau memeriksa ruangan yang ada. Alhamdulillah, semuanya terselamatkan, tak ada berkas-berkas yang kebakaran dan juga tak ada korban.

Katanya sih ada yang melihatnya tetangga sebelah, bahwa terdengar ada percikan api seperti suara mercon.

Sedangkan adiknya sedang di kamar mandi hingga tak konangan (tak mengetahuinya). Untung saja tak merambat ke atap rumah.

Usut punya usut ternyata disebabkan oleh charger HP, yang masih menyolok (masih tercolokan).

Dan konseleting pada bagian kabel rollnya, yang mengakibatkan terjadinya sebuah kebakaran.

Alhamdulillah, semuanya sudah teratasi dengan selamat. Kami pun tenang, sambil duduk dan berbincang-bincang setelah duduk dengan tenang.

Kami akhirnya segera pulang, kembali ke tempat tadi di Pesantunan.

Alhamdulillah, lega sudah rasanya. Hem, sungguh menegangkan, membuat hati ini tak karuan.

Semoga dengan kejadian ini bisa menjadi hikmah dan pelajaran atas sebuah kejadian, agar lebih berhati-hati lagi.


Part 17. Lebe Penyair ke-Rumahku

Lebe Penyair ke rumahku secara tiba-tiba. Dia datang ke desa Kupu mencari-cariku; kesana-kemari tak ketemu. Hingga dia pulang lagi, karena tak menemukanku, sampai sekertaris desa (Pak Carik) pun tak mengenaliku.

Mungkin karena beda namanya kali, ya?

Ke--esokan harinya dia mencariku; di balai desa mengubek-ubek namaku, akhirnya dia tahu rumahku. Padahal sejak tadi mondar-mandir di sekitar rumahku. Mungkin dia tak tahu waktu itu

dia datang bersama perangkat desa Kupu, untuk memberi tahu.

Aku pun kaget dibuatnya, pas awal bertemu dengannya. Agak aneh dan lucu orangnya. Apalagi dia orangnya blak-blakan cara bicaranya.

Dia langsung minta makan dan minum, padahal dia baru datang dan bertemu denganku. Ah, entahlah. Mungkin sudah karakternya.

Sambil berbincang-bincang, dia pun ingin masuk ke kamarku, untuk melihat koleksi buku-bukuku dengan penuh penasaran.

Membaca-baca dan berbincang-bincang, mengenai buku dan karya-karyaku. Dia mencari buku yang disukainya dari pinggir sampai ke ujung. Cukup lama kami berbincang. Akhirnya dia menemukan buku yang disukainya, 

lima buku dia dapatkan untuk dibawa pulang: Katanya sih buat diteliti dan sebagai kenang-kenangan.

Lalu dia pamit pulang. Dia pun minta uang 50.000 rupiah, sebagai ongkos bensin. Akhirnya dia pulang, aku pun bingung tak terbayang melihat sikapnya yang aneh dan yentrik. Ah, entahlah.


Part 18. Lebe Penyair ke-Rumahku

Lebe Penyair ke rumahku lagi; seperti biasa kita bertemu. Dia langsung minta makan dan minum. Katanya sih kangen sama sop sayur jangan asemku, sambil berbincang-bincang seperti biasa mengenai ilmu sastra. Sekaligus pengalaman pribadinya. Ah, entahlah.

Kita seperti orang akrab saja, bercanda tawa masalah sastra. Pembahasan yang singkat dan sederhana, namun padat ilmunya.

Setelah berbincang-bincang, akhirnya dia pamit pulang. Dia pun minta oleh-oleh bawang merah khas Kupu-Brebes, buat bumbu katanya. Ah, tak terbayang di fikiranku saat itu.


Part 19. Mbah Ujang Luwungragi

Mbah Ujang Luwungragi menelponku secara tiba-tiba, ingin berkunjung ke rumahku. Aku pun menerimanya dengan sepenuh hati, meski awalnya ragu dan malu. Namun, aku berusaha menyakini pada akhirnya dia datang kerumahku

waktu esok hari.

Aku menyambutnya di Brug Tempe, namun dia membawa teman laki-laki-nya. Ah, entahlah.

Mungkin karena penasaran mereka, mereka datang ke rumahku, di persinggahan yang sederhana, sambil berbincang-bincang tentang ilmu kepenulisan dan pengalaman.

Cukup lama kita berbincang-bincang, akhirnya mereka pamit pulang. Mbah Ujang ingin membaca buku-buku karyaku, lalu aku memberinya hampir satu kantong atau setengah karung/kandi. Meski aku sudah tak punya bukuku lagi untuk didokumentasikan, ya karena sudah kosong. Hehehe. Ah, sudahlah, yang penting bisa bermanfaat dan berkah, sebagai amal jariyah, sekaligus sedekah dalam ibadah. Aamiin. 


Part 20. Haniem

Haniem, apakah kau mencintaiku?Serpihan rindu telah bercamuk. Apakah ini yang dinamakan cinta itu? Yang menggertakan dada membuat aku bertekuk?

Adakah rasa pada benakmu yang tersimpan? Untuk sang pengagum kerinduan.  Itu mengapa sebabnya aku 'tak ingin berjauhan? Karena sulit 'tuk melupakan segala moment kenangan-kenangan itu, yang tersimpan di memoriku ini; oh dek, Haniem.

Bawang merah menjadi saksi kita di pelaminan cinta. Memupuk rasa: Dirawat, disirami, agar tumbuh bersama.

Haniem, yang kupunya. Menjerat segala harsa, aku begitu mendamba. Kutaburkan dengan penuh jiwa.

*

Aku sebenarnya masih bingung apakah dia cinta sama aku atau tidak? Sedangkan dirinya orang kaya, sedangkan aku orang sederhana: Bagai aku melihat langit dan bumi, jauh dari pandangan ini.

Aku pun sadar diri, aku ini siapa? Hanya orang yang terlalu berharap tinggi, sehingga aku lupa aku ini siapa. Hanya bermodalkan cinta, tak punya apa-apa.

Inilah yang membuat aku insecure padanya. Bukan berarti aku sombong dengan tak ngomong.

Aku bukan orang akademis, itulah yang membuat aku pesimis. Entah, mengapa aku bagai pengemis. Hanya untuk dikasihani dan dicintai, padahal aku juga punya prinsip diri. Jika dia tak mencintaiku aku akan pergi, untuk mengobati hati ini.

Atma pun seakan-akan lunglai, menjelma kertas rindu terkena air hujan: Belum bisa dicintai, tapi ingin dicintai.

Entahlah, aku bingung menyapa harapan. Di sini hanya menanti kerinduan, pada haluan terbelantara di kenestapaan.

Angin menyapa tubuhku, yang sedang terlelap. Pada haluan menyantap rindu, namun hanya bisa berharap.

Jarang bertatap, hingga hati ini resah.

Aku pun sulit 'tuk ungkap, sedangkan ambigu terus singgah.

"Dek, kapan kau sempat datang?"

Aku masih mengharapkanmu 'tuk pulang, pada kalbu digenggam rindu, saat sajak cinta terus menggebu.

Aku pun menanti kehadiranmu, oh sang dewiku.

Keluarganya sangat kaya--raya, punya sawah seluas tujuh hektar kira-kira katanya; punya mobil sekitar tiga belasan. Sungguh luar biasa, sedangkan aku orang biasa, membuat aku insecure saja padanya.

Aku pun hanya bisa menggelengkan kepala. Apakah aku sanggup bersanding dengannya? Di balik semua harta bendanya, aku menatap penuh kekaguman. Hanya bisa mendamba harapan.

Adakalanya aku ingin menarik perhatian

Dibilang caperan.

Namun, aku seperti hujan tak usah kau harapkan.

Kadangkala, aku menatap dengan harapan, bahwa kepastian akan berbuah kenyataan. Itu mengapa aku harus memperjuangkan.


Part 21. Pertama Kali Belajar Khitobah

Pertama kali belajar khitobah, padahal aku santri baru, tapi aku disuruh khitobah pada malam Jum'at penuh berkah. Aku menjadi seorang pendakwah.

Sebagian ada yang senang denganku, dan sebagian lagi ada yang enggak suka denganku, karena dianggap sok-sokan. Hem, entahlah. Ya, mungkin aku santri baru, yang masih diragukan. Akan tapi, aku tetap semangat 'tuk melangkah, mencari ilmu supaya berkah.

* Sebuah Buku Harian Pondok *

Buku harian pondok: Aku tulis ketika senggang dan istirahat, dengan penuh semangat. Sampai aku mogok, hingga aku keluar pondok.

Sekarang buku itu hanya sebuah naskah.

Waktu itu, aku bingung cara menerbitkannya, supaya bermanfaat dan berkah. Kini, menjadi ruang penuh kertas tercecer di kamar yang sempit dan kumuh. Hem, aku pun malas. Aku biarkan tercecer luas, mengejar mimpi yang pantas. Namun, aku tetap culas, hingga kembali lagi menulis kertas. Entah, aku juga bingung. 


Part 22. Sekolah Arab (Sekolah Madrasah)

Aku sekolah madrasah dari kelas sipir (kelas nol) sampai lulus. Di desaku terkenal dengan sebutan sekolah Arab, meski sekolahnya di Indonesia; bukan di Arab. Hehehe.

Itu pun sudah lumrah, bagi orang desa karena mayoritasnya.

Aku sebenarnya anak yang bodoh, sering diganjar (dihukum berdiri di depan kelas) ketika waktu pelajaran. Ya, karena soal hafalan. Namun aku tetap menghafalkan, hingga aku hafal, menjadi anak normal dan cukup mental.

Begitulah cerita waktu aku masih sekolah madrasah, penuh dengan berkah. Alhamdulillah.

Semoga bisa sukses selalu dan berkah selalu, ya Allah. Aamiin. 


~ SELESAI ~

________

Nb: Kumpulan tulisan ini adalah sebuah cerita yang terpotong-potong dan memiliki judul yang berbeda, yang digabungkan menjadi satu atau saya kumpulkan kembali menjadi beberapa part/bagian.

Awalnya tulisan ini berbentuk puisi panjang saya, saya ubah menjadi sebuah cerita pendek. Sehingga lebih ke cerita yang cukup menarik menurut saya. Kumpulan tulisan ini dulunya pernah dimuat satu persatu di Website Awin Buton dengan judul yang berbeda, dari tahun 2022 hingga 2024 akhir. 

Semoga dengan adanya kumpulan cerita ini bisa dipetik hikmahnya saja dan manfaatnya. Dan Semoga bisa menginspirasi dan membawa berkah. Aamiin yaa Rabbal 'aalamiin.


Brebes, 22 Juli 2026

Tidak ada komentar