Menatap Wajah Pendidikan Kita Hari Ini

 


Menatap Wajah Pendidikan Kita Hari Ini

Pukul setengah tujuh pagi di kawasan Sudirman, Jakarta, seorang anak melangkah turun dari mobil MPV mewah. Seragamnya rapi disetrika, sepatunya bermerek, dan di punggungnya bertumpu sebuah tas ransel ergonomis. Di dalam tas itu, selain buku pelajaran, terdapat sebuah tablet layar sentuh mutakhir yang terhubung ke jaringan internet berkecepatan tinggi. Bagi anak ini, dunia digital adalah ruang kelas keduanya. Dia akrab dengan kecerdasan buatan, fasih berbahasa asing, dan akrab dengan istilah-istilah global. Baginya, masa depan adalah bentangan karpet merah yang siap diinjak.

Pada jam yang sama, di sebuah desa di pedalaman bentangan sungai, seorang anak lain sedang bertaruh nyawa. Seragam putih-merahnya sudah menguning di bagian kerah, warnanya pudar oleh detergen murah dan rendaman air sungai. Tanpa alas kaki, ia harus meniti sebatang bambu licin yang melintang di atas sungai deras, atau mendayung sampan kecil selama satu jam hanya untuk mencapai sekolahnya. Sekolah itu adalah bangunan kayu tiga kelas yang atap sengnya bocor berkarat. Jangankan internet cepat, sinyal seluler di sana adalah barang mewah yang harus diburu sampai ke puncak buit. Buku paket yang mereka gunakan adalah sisa kurikulum lima tahun lalu yang halamannya sudah robek separuh.

Dua anak ini hidup di bawah bendera yang sama, menghafal Pancasila yang sama, dan kabarnya, dilindungi oleh konstitusi yang sama. Namun, mereka hidup di dua dimensi waktu dan ruang yang terpisah berabad-abad lamanya. Inilah potret makro, wajah asli pendidikan kita hari ini. Sebuah jurang menganga yang kita sebut kesenjangan.

Paradox Dua Dunia: Jakarta vs Pelosok

Selama puluhan tahun, kita kerap disuguhi angka-angka statistik yang membuai dari balik meja-meja birokrasi di ibu kota. Anggaran pendidikan dinaikkan, aplikasi-aplikasi baru diluncurkan, dan jargon-jargon modernisasi diteriakkan. Namun, jika kita melangkah sedikit saja keluar dari zona nyaman kota besar, kita akan melihat bahwa modernisasi itu berjalan timpang.

Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Medan, sekolah-sekolah swasta dan negeri unggulan berlomba-lomba menerapkan kurikulum internasional, fasilitas laboratorium robotik, dan smart classroom. Orang tua di kota rela membayar puluhan juta rupiah demi memastikan anak mereka fasih menggunakan teknologi terbaru. Pendidikan di sini telah bergeser menjadi ajang prestise dan pembentukan ekosistem manusia global.

Namun, mari tengok realitas di pelosok Nusa Tenggara Timur, pedalaman Papua, atau pulau-pulau terluar Maluku. Di sana, tantangan utama sekolah bukanlah bagaimana memanfaatkan AI dalam pembelajaran, melainkan bagaimana agar atap ruang kelas tidak ambruk saat hujan deras turun. Contoh nyata terjadi ketika ujian berbasis komputer digital mulai diwajibkan secara nasional beberapa tahun lalu. Di beberapa daerah terpencil, pihak sekolah harus mengangkut murid-murid mereka menggunakan truk menuju kota kecamatan terdekat yang berjarak puluhan kilometer, hanya untuk mencari sinyal dan menumpang listrik di sekolah lain. Ada pula kisah para guru yang harus menaruh komputer di atas meja yang diganjal batu karena lantai sekolah mereka masih berupa tanah liat.

Kesenjangan ini bukan sekadar masalah fisik dan infrastruktur. Ini adalah masalah ketidakadilan struktural yang merenggut hak anak-anak pelosok untuk bermimpi setinggi anak-anak kota.

Kegamangan Arah: Ke Mana Kita Melangkah?

Ketimpangan fisik ini diperparah oleh penyakit kronis lainnya: kegamangan arah pendidikan nasional. Kita seperti seorang musafir yang terus berganti kompas setiap kali berganti kepemimpinan, namun tidak pernah benar-benar tahu ke mana tujuan akhir perjalanan kita.

Dalam praktiknya di masyarakat, arah pendidikan kita kerap kali gamang karena terjebak di antara dua kutub. Di satu sisi, ada tuntutan untuk melestarikan nilai moral, budaya lokal, dan budi pekerti. Di sisi lain, ada tekanan pasar yang begitu kuat yang menuntut sekolah untuk menghasilkan lulusan yang siap pakai oleh industri.

Nahasnya, dalam beberapa dekade terakhir, kutub kedua tampaknya memenangkan pertarungan secara mutlak. Sekolah-sekolah kita, sadar atau tidak, telah berubah fungsi menjadi pabrik-pabrik massal. Kurikulum didesain sedemikian rupa agar anak-anak patuh, seragam, cakap dalam hal-hal teknis, namun tumpul dalam berpikir kritis. Contoh nyatanya bisa kita lihat pada maraknya pembukaan jurusan-jurusan di sekolah kejuruan atau universitas yang hanya didasarkan pada tren industri sesaat. Ketika industri digital meledak, semua berbondong-bondong membuka jurusan teknologi informasi tanpa memikirkan kesiapan tenaga pendidik. Ketika tren bergeser, para lulusan ini ditinggalkan begitu saja di pasar tenaga kerja yang sudah jenuh, menjadi angka baru dalam statistik pengangguran terdidik.

Anak-anak didorong untuk mengejar nilai tinggi di atas kertas melalui metode hafalan yang monoton. Mereka tidak diajarkan untuk bertanya "mengapa", melainkan dipaksa patuh pada jawaban "apa". Akibatnya, kita melahirkan generasi yang gagap saat dihadapkan pada masalah nyata di masyarakat. Mereka mungkin hafal rumus-rumus fisika atau teori-teori ekonomi mikro, namun abai dan tidak peduli ketika melihat sungai di samping rumah mereka tercemar limbah pabrik atau ketika hak-hak tetangga mereka dirampas.

Pendidikan kita hari ini sukses membuat anak pintar secara instrumental, namun gagal membuat mereka bijaksana secara insani. Kita berhasil mencetak tenaga kerja, namun kerap kali gagal membentuk manusia seutuhnya.

"Apakah kita mendidik untuk membebaskan manusia, atau sekadar mencetak sekrup-sekrup industri?"

Mari jeda sejenak dari rutinitas dan tuntutan angka-angka. Tengoklah anak-anak kita, atau ingatlah kembali masa-masa ketika kita sendiri duduk di bangku sekolah.

Ketika kita memuji seorang anak hanya karena dia mendapatkan nilai 100 dalam ujian pilihan ganda, dan di saat yang sama mengabaikan anak yang menghabiskan waktunya membantu temannya yang kesulitan, nilai apa yang sebenarnya sedang kita tanamkan?

Jika fungsi institusi pendidikan hanya direduksi untuk melayani kebutuhan pasar modal, memastikan anak-anak patuh pada jam kerja, cakap mengisi lembar instruksi, dan tidak banyak bertanya maka kita tidak sedang membebaskan pikiran mereka. Kita sedang memasang belenggu baru yang tak terlihat. Pendidikan sejati seharusnya menyalakan api kesadaran, memerdekakan jiwa dari kebodohan, dan menumbuhkan empati radikal agar mereka mampu mengubah wajah dunia menjadi lebih adil. Selama kita masih membiarkan anak di pelosok tertinggal di masa lalu sementara anak di kota melesat ke masa depan, kita semua sedang merawat sebuah ketidakadilan yang dibungkus dengan nama pendidikan.

 

Tidak ada komentar