Melukis Kehidupan Realita dan Cinta yang Menyatu: Catatan Kang Thohir


Sumber: Pinterest


KEHIDUPAN memang sulit ditebak oleh logika, namun hakikatnya kita belajar dari realita yang ada. Bahwa kehidupan di dunia ini penuh bermacam-macam aneka cerita. Kita hidup untuk belajar dari yang nol hingga terisi penuh dari pengalaman-pengalaman hidup kita.

Hidup memang tidak harus mengikuti cara orang lain, kita juga punya cara tersendiri untuk bisa berubah dan berkembang, meraih impian kita. Kita belajar cara mengatasi masalah-masalah yang kita hadapi, meski demikian ada jalan keluarnya, karena itu sebagian dari ikhtiar kita untuk menemukan apa makna falsafah hidup. 

Apalagi kita menghadapi dunia zaman sekarang, di mana cuanlah yang lebih berharga atau lebih penting dari sebuah realita (harga diri). Makanya kejujuran dan integritas kita dalam menghadapi dunia ini yang penuh sandiwara dan moral yang mulai bobrok. 

Hidup itu memang untuk beribadah. Akan tapi, kita bisa membedakan mana yang ibadah sesungguhnya dan mana yang bukan ibadah. 

Kita berfikir atas segalanya kekuasan-Nya, itu termasuk ibadah dan kita berkerja mencari nafkah, itu termasuk ibadah dengan cara yang halal dan jujur apa adannya. Walau menafkahi untuk diri kita sendiri. Itu bisa membuat hidup lebih nyaman, damai dan sentosa.

Kita tak usah silau atas kesuksesan orang lain, kita punya takdir masing-masing dan rezeki masing-masing yang sudah diatur.

Kita terus berusaha dan belajar agar impian kita menjadi nyata (terwujud). Jangan iri dengki kepada orang lain, karena itu penyakit yang sulit disembuhkan.

Kita harus melukis sejarah peradaban di hidup kita sendiri, supaya lebih maju dan mandiri kedepannya. Jangan samakan yang lain. Kita punya basic dan pontensi, kita dalami di bidang apa yang kita geluti.

Kemampuan itulah yang akan menjadi pengantar kita menuju kesuksesan, tanpa intervensi-intervensi omongan-omongan orang lain, yang kadang menjatuhkan power kita untuk terus berkarya. Kita harus bikin sejarah yang baru untuk mengubah hidup lebih bermakna.

Keberhasilan itu terletak pada kedisiplinan dan menyakinkan kita. Jangan membohongi diri kita sendiri untuk mengikuti orang lain, yang belum tentu baik kedepannya. Jangan prontal kepada orang lain atas segala rencana dan cerita yang bukan tempatnya tuk bercerita. Karena bisa menimbulkan berdampak diadu domba, diprovokatori, difitnah, dibenci dan timbulnya juga iri dengki kepadamu. 

"Diam adalah emas," kata orang-orang, agar nyaman dan damai, tak banyak gosip beredar. 

Apalagi sekarang maraknya dunia digital, teknologi, dan media sosial. Kita punya cita-cita dan terus berjuang tuk mengembangkannya. 

Kita pun punya prinsip, yaitu; berkerja, disiplin, jujur, amanah, belajar, berjuang, pantang mundur, sabar, dan tawakal setelah itu. Kita punya pedoman hidup, jangan bergantungan kepada satu orang, kita gali semua pengalaman hidup kita biar menjadi bukit dengan terus mencari dan mencari.

"Dedikasikanlah hidup ini dengan cinta dan melukislah kisah kita tuk berkarya, yang lebih bermanfaat dan juga bermakna bagi orang lain."

"Hidup adalah pilihan yang kita pilih, biarkan orang-orang menganggap kita tai (hina), tapi sebenarnya kita adalah emas intan permata yang jatuh dari spiteng."

Teruskanlah perjalanan hidup kita, meski memikul beban berat. Masalah-masalah datang bertubi-tubi yang kita hadapi, tapi kita memilih untuk terus berjuang----- dan berjalan dengan sabar penuh keyakinan, itulah yang dinamakan makna kehidupan sejati. Ada rintangan dan tantangan di setiap perjalanan hidup kita. Suluk bagi kita, menempuh hakikat yang sejati atas segala ketentuan dan kekuasaan-Nya. Kita harus perbanyak bersyukur dan terus bertafakur kepada-Nya, agar hidup kita ter-arah. Menuju jannah.

Kita punya kemuliaan yang disembunyikan oleh Allah, untuk lebih wira'i (sifat kehati-hatian dan tawadhu'), supaya tidak terjebak pada lingkaran dosa seperti; ujub, iri dengki, adu domba, congkak, provokasi, ngefitnah dan merasa suci. 

Itulah sebabnya kita harus ber-rendah hati dan memiliki akhlak yang terpuji, itulah kemuliaan yang sejati. Sifatnya orang-orang sholeh dan sufi. Teruslah berbuat baik dan bermanfaat bagi bangsa dan agama. Semangat, Kawan! (*)


Brebes, 15 Juni 2026

Tidak ada komentar