Di sebuah
ruang tamu yang rapi, seorang ibu paruh baya menatap selembar kertas dengan
napas tertahan. Matanya terpaku pada barisan angka yang tercetak tebal. Detik
berikutnya, helaan napas berat terdengar, disusul suara dengan nada tinggi yang
memecah keheningan rumah. "Kenapa matematika kamu cuma dapat 75? Anak sebelah selalu dapat 95! Mau jadi apa kamu nanti?" Di sudut
ruangan, seorang anak berusia sepuluh tahun tertunduk dalam-dalam. Baginya,
angka 75 itu bukan sekadar nilai ujian. Itu adalah vonis bahwa dirinya adalah
sebuah kegagalan, sebuah noda dalam reputasi keluarga.
Realitas kecil
ini mencerminkan penyakit akut yang mendera sistem pendidikan kita dari hulu
hingga hilir, obsesi buta pada metrik kuantitatif. Kita telah lama terjebak
dalam sebuah mitos besar bahwa kecerdasan, masa depan, dan martabat seorang
manusia bisa diringkas, diperas, dan diwakili oleh angka-angka di atas kertas.
Nilai rapor, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), hingga peringkat Programme for
International Student Assessment (PISA) telah bergeser fungsi. Mereka bukan
lagi alat evaluasi pembelajaran, melainkan berhala baru yang disembah oleh
seluruh elemen pendidikan.
Ketika Angka Menjadi Tuhan
Baru
Mari kita
lihat bagaimana obsesi ini bekerja di tengah masyarakat. Di tingkat sekolah
dasar dan menengah, fenomena kejar tayang nilai rapor begitu nyata. Demi
mengejar standar nilai minimal (yang dulu kita kenal sebagai KKM atau Kriteria
Ketuntasan Minimal), proses belajar mengajar sering kali dimanipulasi. Ketika
performa asli murid tidak mencapai target, alih-alih memperbaiki metode
pengajaran, yang terjadi justru fenomena inflasi nilai. Angka-angka didongkrak
secara ajaib di atas kertas agar rapor sekolah terlihat hijau di mata.
Sistem seleksi
masuk perguruan tinggi pun setali tiga uang. Jalur prestasi yang mengandalkan
rata-rata nilai rapor menciptakan tekanan luar biasa yang tidak sehat.
Akibatnya, lahir tuntutan masif dari orang tua agar anak-anak mereka
mendapatkan nilai sempurna. Ruang kelas tidak lagi menjadi tempat berdiskusi
yang merdeka atau labolatorium untuk melakukan kesalahan dan belajar darinya.
Kelas telah menyempit menjadi arena pacuan kuda, di mana setiap anak dipaksa
berlari saling sikut demi mengejar angka di belakang koma.
Bergeser ke
tingkat pendidikan tinggi, kita melihat ironi IPK. Di dunia perkuliahan,
mahasiswa terjebak dalam pragmatisme akut. Contoh nyata yang sering kita jumpai
adalah fenomena mahasiswa pemburu nilai. Mereka memilih mata kuliah bukan
berdasarkan minat atau disiplin ilmu yang ingin mereka dalami, melainkan
berdasarkan rumor tentang dosen mana yang royal memberikan nilai A. Mahasiswa
yang kritis dan berani mendebat argumen dosen di kelas sering kali dicap
mencari masalah dan terancam mendapat nilai buruk. Sebaliknya, mereka yang
diam, menyalin salindia presentasi, dan menghafal teks secara verbatim di
lembar ujian justru keluar sebagai lulusan dengan predikat Cum Laude.
Di level
makro, negara pun ikut panik setiap kali hasil peringkat PISA diumumkan. Ketika
skor membaca, matematika, dan sains anak-anak kita berada di papan bawah,
birokrat pendidikan segera merancang program instan, mengganti kurikulum, dan
menggelar pelatihan kilat. Orientasinya tetap sama: bagaimana menaikkan skor
numerik pada asesmen berikutnya, bukan bagaimana menumbuhkan kecintaan membaca
yang organik pada jiwa setiap anak.
Karakter dan Logika
Ketika angka
menjadi satu-satunya mata uang yang laku di dunia pendidikan, ada dua aset
berharga yang terpaksa dikorbankan, pembentukan karakter dan nalar logika
berpikir.
Sistem yang memuja nilai secara
otomatis menyuburkan budaya jalan pintas. Contoh paling telanjang di masyarakat
adalah maraknya industri kecurangan yang terorganisir. Menjelang ujian nasional
atau ujian masuk universitas, beredar sindikat jual-beli kunci jawaban yang
melibatkan tidak hanya murid, tetapi terkadang didukung secara diam-diam oleh
oknum guru dan sekolah demi menjaga nama baik institusi. Di ranah perguruan
tinggi, kita menyaksikan suburnya jasa joki skripsi dan tesis. Bahkan, penyakit
ini telah menjangkiti puncak tertinggi menara gading akademis, di mana para
dosen dan guru besar terjebak dalam skandal plagiarisme dan publikasi jurnal
predator demi mengejar angka kredit poin (KUM) demi kenaikan jabatan.
Logika
berpikir pun turut tumpul. Anak-anak kita dilatih untuk menjadi mesin penjawab
soal pilihan ganda. Mereka sangat mahir mengeliminasi pilihan A, B, atau C
menggunakan rumus cepat yang diajarkan di lembaga bimbingan belajar. Namun,
ketika mereka dihadapkan pada teks berita di media sosial, mereka gagal
membedakan mana fakta dan mana hoaks. Mereka gagap menganalisis sebab-akibat
dari sebuah fenomena sosial di lingkungan mereka sendiri. Kita melahirkan
generasi yang fasih menghafal nama-nama pahlawan dan tahun peperangan, tetapi
tidak memiliki empati sedikit pun untuk membela kaum yang lemah di jalanan.
Pendidikan
kita telah berhasil melatih ingatan short-term (jangka pendek) murid untuk
kepentingan ujian, tetapi gagal mengasah pemikiran kritis untuk sepanjang
hayat. Kita memanen manusia-manusia ber-IPK tinggi yang miskin integritas, kaya
hafalan namun hampa penalaran.
Kolom Refleksi Inti
"Jika angka mengukur
segalanya, di mana kita meletakkan nilai kejujuran dan rasa kemanusiaan?"
Bayangkan
sebuah dunia di mana dokter terbaik adalah yang memiliki nilai anatomi sempurna
di atas kertas, namun jemarinya gemetar karena tak punya rasa empati saat
menghadapi pasien yang sekarat. Bayangkan sebuah negeri yang dipimpin oleh para
sarjana hukum lulusan terbaik, namun menggunakan kecerdasannya hanya untuk
mencari celah pasal demi melanggengkan korupsi.
Ke sinilah
arah bangsa ini jika kita terus mendewakan ilusi angka. Angka adalah benda mati
yang dingin. Ia tidak bisa memotret air mata seorang anak yang stres karena
beban belajar, ia tidak bisa mengukur seberapa gigih seorang murid bangkit dari
kegagalan, dan ia mustahil bisa menilai ketulusan hati.
Ketika kita
membiarkan seorang anak menyontek demi mendapatkan nilai 100, kita sedang
mengajarinya bahwa hasil akhir menghalalkan segala cara. Kita sedang mencetak
calon koruptor masa depan. Sudah saatnya kita meruntuhkan berhala angka ini.
Mari kembalikan sekolah sebagai tempat untuk memanusiakan manusia. Di mana
kejujuran lebih dihargai daripada lembar jawaban yang sempurna, dan rasa
kemanusiaan diletakkan jauh di atas peringkat-peringkat semu di atas kertas.


Tidak ada komentar