Bekal Santri Ketika Terjun di Masyarakat: Catatan Kang Thohir


Sumber: Pinterest


Bekal santri ketika terjun di masyarakat ada tiga, yaitu; 1). Berakhlak mulia, 2). Jujur (amanah), 3). Ilmu yang bermanfaat untuk umat dan masyarakat. 

Santri adalah sebagai panutan umat di masyarakat (pengayom), maka dari itu santri harus bersikap baik, memiliki sifat yang jujur atau amanah untuk mengemban amanah dan tanggung jawab, ketika terjun di masyarakat. Sehingga harus bersikap jujur apa yang disampaikannya ketika diberi amanah sekecil apapun dan seberat apapun tanggung kita di masyarakat.

Sedangkan ilmu itu untuk mengajarkan atau menyebarluaskan ilmu yang kita dapat ketika di pondok kepada umat dan masyarakat, ya walaupun sedikit ilmu yang kita dapat harus disampaikan. 

Sebagaimana dalam sabda Nabi Muhammad SAW:

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

"Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat."

(H.R. Bukhari dan Muslim).

Meski sedikit ilmu yang kita sampaikan di masyarakat, yang penting kita bisa bermanfaat dan berkah bagi orang lain dan umat.

Ada istilah pepatah; "Biar ilmu sedikit asalkan terus menerus (istiqomah), maka lama-kelamaan akan menjadi bukit." Atau "Istiqomah lebih baik dari seribu karomah."

Dan menjadi santri ketika dibutuhkan oleh masyarakat, jangan mengharapkan upah (imbalan), atau ingin dihormati, tapi jadilah santri yang ikhlas dan tulus melayani umat dan masyarakatnya.

 Berdakwah harus tulus apa adanya, seperti yang diajarkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW, lewat ajarannya atau sifat-sifatnya (tindak-lakunya).

Kita harus meniru (mencontoh) akhlak Baginda Nabi SAW sebagai suri tauladan yang baik atau ala Baginda Nabi Muhammad SAW, ketika kita dalam berdakwah di masyarakat dan umat. Walau hanya setengah dari akhlak beliau, sekiranya itu yang bisa kita tiru. 

Seperti dalam sabda Nabi Muhammad SAW, riwayat Imam At-Tirmidzi. 

Rasulullah SAW bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya." 

(HR. At-Tirmidzi).

Dan sabda Nabi Muhammad SAW yang lainnya:

مَا مِنْ شَيْءٍ يُوضَعُ فِي الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ

"Tidak ada sesuatu yang lebih berat di timbangan (amal) daripada akhlak yang baik." 

(H.R. At-Tirmidzi)

إنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا

"Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya."

 (H.R. Ahmad)

Dan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an: (Surat Ali Imran Ayat: 110):

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah."

Surat An-Nahl Ayat 125:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik."

Dan dalam Hadis Riwayat Imam Ath-Thabrani:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."

Kita pun harus banyak belajar dan belajar untuk terus berbuat baik, jangan sampai merasa lebih baik dari orang lain. Karena itu bukan sifat seorang santri yang baik, itu adalah sifat yang tercela, dan tidak baik di masyarakat dan tak pantas sebagai contoh masyarakat. 

Kita harus berbuat baik, meski kita dianggap buruk oleh orang lain, mungkin karena iri dengki atau mungkin merasa terusik kehadirannya. 

Seperti dalam kutipan yang saya dapat dari (sebuah artikel), beliau berkata:

“Hendaklah kamu tetap berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadamu."__Lukman Hakim

Artinya kita harus tetap berbuat baik, walau kita sering dijelek-jelekin/disakitin oleh orang lain. Dan janganlah, berhenti untuk menjadi orang baik kepada orang lain, jangan ada rasa dendam. Kita harus sabar dengan berusaha, dan pasrahkan diri kita kepada-Nya, biar Allah yang akan membalasnya. 

Tetap berlapang dada dan semangat membara, untuk berdakwah kepada umat dan masyarakat. 

Maka dari itu tetap konsisten dalam berdakwah, dan juga belajar menutut ilmu lagi, guna memperbanyak ilmu, supaya makin bertambah, ya walaupun hanya sebentar. Karena pada dasarnya santri akan menjadi sang penerus kyai (ulama), dan dakwah Nabi Muhammad SAW. Karena pada hakikatnya santri itu adalah orang-orang yang dipilih dening Allah SWT, supaya menjadi penerusnya, menjadi generasi ke generasi (sanad keilmuannya). Walau hanya sebagian orang saja yang matang (mantep).

Mbah Hasyim Asy'ari pernah dawuh:

"Barangsiapa yang datang ke tebuireng dengan niat tholab al-ilmi (mencari ilmu) meskipun hanya sebentar, maka ia sudah menjadi santriku." 

Itu artinya akan diangkat menjadi seorang santrinya oleh beliau, apabila kita menuntut ilmu di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Dan kelak akan menjadi penerus sanad keilmuannya beliau (Mbah Hasyim Asy'ari). Karena beliau adalah salah satu Mahagurunya ulama Nusantara, dan pencetak ulama-ulama yang ada di Nusantara.

Semoga kelak kita diakui sebagai santrinya, Mbah Kyai Hasyim Asy'ari. Aamiin. 


Brebes, 20 Juni 2026

Tidak ada komentar