Kisah Asmaraloka dalam Arunika: Cerpen Kang Thohir

 


Sumber: Pinterest

Pagi yang cerah melambai arah. Di sini aku menunggu untuk hati yang kusinggah. Tak ada cinta yang datang menyapa. Entah, bagaimana aku mencarinya. Sudah kucari-cari ke sana-kemari tak ada juga. Aku menatap setiap jalan hanya ada angan dan penantian, aku di sini kesepian. Meraup semua impian yang belum tercapaikan. Aksa kian melara menawan rasa di dalam kasih memberikan suatu keindahan dan kedamaian pada keharmonisan. Biarkan aku mendalami semua ini. Meski termangu di antara tertekan dan duri yang menusuk hati. Perih dan sedih. Ah, entahlah.

Aku terkadang menatap gunung di atas rerumputan dan cinta. Meski terkadang ragu memanjat ke atas, karena ada keresahan dan gelisah menerpa. Sambil melamun menatap ke atas, memandang burung-burung terbang seakan aku ikut terbang melayang di angkasa. Pagi hari yang cerah menambah sejuk nan indah. Aku terbiasa duduk sendiri di sini, menunggu yang tak pasti. Menata ruang sunyi yang hampa, menghadap ruang rindu kian menggebu. Spesialis dari rindu ini adalah menambah rasa cinta dan rasa penasaran untuk bertemu, meski sulit mengejar waktu dan satirnya waktu. Aku seakan menatap kerinduan yang begitu sunyi saat ia tak ada di sisiku, entah itu siapa? Apakah aku hanya berimajinasi saja? Ah, sudahlah, aku cukup mencermati arah tujuan itu, meski demikian aku tetap di sini dan mencari. Cukup sekian dan terima kasih, kataku kala itu.

Rinduku adalah cinta yang bersemi di hati yang murni, untuk memilikimu di antara penjara luka dan rindu, hingga menjelma menjadi cinta itu sendiri. Arunika akan selalu ada menyapa kita, terkadang telat untuk membangunkan, karena tertutup awan mendung. Ada perasaan istimewa di hati ketika aku melihatmu di antara harmonis dan senyuman manis.

Ada lirik-lirik indah di matamu, meski kamu tak menyadari. Bahwa bahasa senyummu adalah mutiara yang candu, manis, memikat, berseri-seri dan mempesona. Meskipun kamu adalah gadis desa yang berpakaian biasa, tapi senyumanmu itu luar biasa. Aku terpukau saat menatapmu, indah menawan. Anggun di atas mutiara cinta yang romantis aduhai indah sekali. Terasa bagai mimpi menatap bidadari secantik ini. Senyuman yang tulus murni memancarkan aura kasih yang sejati dan bersemi merona secara sempurna. MasyaAllah.

Diam aku memikirkanmu, meski kau tak menyadari. Bayang-bayang semu yang menawan hati. Aku menatap di atas jendela itu, namun tak nampak dirimu seutuhnya kau merayuku. Aku merasa kau mempermainkanku di balik jendela itu. Aku mengejar kau seakan menghirap di balik jendela kian semu. Aku merasa kau sangat berbeda dari kemarin. Mungkin kau sudah punya yang lain? Ah, entahlah. Paras muka mulai kelihatan tak seperti dulu. Di sini aku menunggumu seperti dulu. Bermain dan bercanda tawa. Kenapa sekarang kau malah pergi dan menghilang? Aku di sini seakan depresi, sehingga terbawa halusinasi di balik jendela itu. Aku merasa kau masih mencintaiku, meski hanya sedikit seujung kuku. Apakah aku harus move on, dan membuka pintu baru? Hem, ya sudahlah.

Tapi aku masih memikirkanmu. Jelas aku sayang padamu, Kasih. Ada dinding waktu yang terhimpit ruang dan waktu. Aku mencari arti sejati. Dari pahit yang kurasakan. Di udara terbuka aku berusaha tenang dan berbaur bersama teman. Di situlah aku membuka lembaran baru, dan berusaha move on darinya. Sulit memang, bisa melewati itu semua. Ada keikhlasan dan pengorbanan untuk tetap berada dalam ketenangan dan kesabaran yang luar biasa. Ada hikmah yang kupetik dari buah itu yang rasanya harum dan manis di akhir kisahnya.

 

Terbenam sudah menatap senja. Menyapa sang purnama. Aku masih saja memikirkannya. Namun, ada asa di balik semua itu. Meraup rindu menggapai cita-cita. Kini, waktu telah berlalu, aku masih menatap dirimu yang semu.

Burung-burung berkicau. Irama itu kerapkali terdengar di telingaku. Untukku yang sedang termangu dan risau. Aku galau mendengar ocehan mereka yang semu. Membuat aku muak! Hirap semua moodku menatap mereka yang durjana, kerap mencerca. Aku sampai menitiskan air mata. Akan tetapi, tak ada yang peduli malah mereka semakin menjadi-jadi. Sungguh kejam dan sadisnya mereka, 'tak ada nurani samasekali. Hingga aku sakit 'tak berdaya, di lantai yang dingin kupeluk.

Para pecinta memberikan kasih. Di ujung kepiluan. Di situlah aku menjemput rindu menjadi cinta yang kasih. Sudah menjadi penawar rindu di balik semua pilu. Datang seseorang yang mengantarkan cinta di pantai cinta yang indah berbukit. Aku tersenyum sedikit. Apakah ini benar-benar mimpi? Aku cubit. Aduh, ternyata sakit. Eh, beneran ini.

Api asmara kian membuncah. Dekapan kalbu melawan rindu. Ada bayangmu bertamasya di kalbu, aku ingin bercumbu (bertemu). Menatap bidadari di udara semu. Seakan sajak-sajak cinta tak mampu mengungkapkan betapa cantik jelita dirimu, Kasih. Indah, anggun, dan madu. Sempurnalah dirimu oh bagiku, Kasih.

Lentera hati bercahaya mengarungi ruang sunyi yang gelap gulita. Aku ingin melambai angan berdandan arunika. Awal kuning bercumbu merah kian membiru. Indah purnama pada malam hari, tak terasa sepi. Aku menunjuk arah itu. Anindya bertanya pada malam, lalu malam menjawab esok akan datang menyapamu.

Ada sepucuk surat untukmu biar kamu baca, aku ingin kamu tahu mengarungi samudra itu. Biarkanlah aku menatapmu, lalu kucoba mengingatkanmu di dalam memoriku. Sebelas Maret telah kita lalui, mungkin waktu itu sangat singkat, namun kenangan itu selalu teringat. Biarkan waktu yang akan berbicara. Jangan kita diadu domba atau terprovokasi oleh yang membenci kita. Abaikan saja, jangan didengarkan. Biarkan angin berlalu berhembus sesuai iramanya. Jangan berburuk sangka dan jangan terlalu curiga, agar cinta kita tetap harmonis dan abadi selamanya.

Menunggu fajar datang menyapa kita. Aku masih menatap asa dan menata masa depan kita. Bahwa renjana itu tertulis dalam hati kita yang termaktub. Dalam garis-garis sunyi aku menunggu datangnya matahari menyinari kita. Sekelumit cerita di antara duka dan bahagia, melengkapi adanya perjalanan yang kita lewati. Kembali pada keabadian yang sejati. Arunika memberi pencerahan itu di hari yang gelap, namun penuh makna yang tersirat di balik pancaran itu:

"Apakah kamu masih mengingat waktu itu, Anindya?"

"Aku masih mengingatnya, Bagaskara," jawab Anindya.

Aku pun senang mendengarnya. Sambil menatap senyum dari Anindya yang menawan, yang berparas cantik nan jelita:

"Di sini aku semakin betah bersamamu, Anindya," ujarku padanya. Sambil merayu dan malu-malu. Aku pun bercumbu waktu dengannya. Indah nan syahdu. Bertamasya di taman cinta, yang berbunga.

Berbunga rasanya menatapmu, meski kadang ragu untuk merayu. Kini aku berada dinding waktu menjelma rindu. Hujan malam itu membuat aku kedinginan, seperti dirimu tak ada di sisiku. Meratapi nasibku yang ditinggal olehmu. Aku membuat lagu untukmu dari memori-memori yang tersisa. Berharap kau menyapa lagi di sini saat itu. Apakah kita sudah berbeda? Tak sama lagi pada saat kita bercumbu waktu? Bercanda tawa, suka dan duka, tetap selalu bersama. Apakah kita tak bisa mengulanginya lagi atau kembali? Memang setiap perpisahan membuat aku rindu padanya.

Sepasang kekasih menjalin madu, seperti kisah Romeo dan Juliet. Namun, mereka terpisah oleh keadaan dan waktu. Mereka akhirnya berpisah dari penghalang dinding waktu. Angin berhembus dengan cepat, sehingga rindu pun menghampiri. Mereka adalah cinta yang murni, di bawah arunika yang menyinari. Membawa mereka bersatu, namun terpisah karena adanya suatu masalah. Mereka berdua memilih berpisah, meski berat rasanya. Mereka menangis berpelukan, dan terpaksa untuk melepaskannya. Mereka mengucapkan;

"Aku di sini tetap setia untukkmu, Kasih?" 

"Aku juga selalu ada dalam hatimu, Mas."

"Selamat tinggal Kasih, selamat tinggal kenangan."

"Selamat tinggal juga untukmu Mas, jaga baik-baik di sana."

Mereka mengucapkan perpisahan yang sedikit tersenyum, dan menitiskan air mata. Mereka sebenarnya saling setia dan saling melengkapi, namun begitulah takdirnya yang harus mereka terima.

*

Aku seakan menari di kesunyian tanpa arah tujuan. Ketika kunang-kunang membawa cahaya kelap-kelip di depan pelupuk mataku, masih belum bisa menawarkan rindu padanya yang sayu. Aku sebenarnya sudah jenuh berada di lingkaran itu. Tertekan, muak, resah gelisah, bingung, merana dan sembilu. Izinkan aku merantau di hatimu, biarkan aku menggenggam cita-cita 'tuk menggapaimu. Di ujung tanduk rindu yang menggelayuti dedaunan yang mulai gugur dan layu. Biarkan aku bersembunyi di balik tembok biru itu dan bercermin malu, aku merayap temu. Mereka mengucapkan "good bye"  (selamat tinggal), aku 'tak kuasa melambai. Di sini aku masih termangu. Menatap erupsi cinta yang mulai tercemar oleh kabut hitam yang kelabu. Berbisik-bisik dalam suara yang semu, namun sangatlah licik, sangatlah menyedihkan, bila ditatap. Begitulah aku memandangnya. Biarkanlah  orang-orang membenci, aku hanya mendengarkan saja, lalu tinggalkan. Begitulah.

Saat matahari terbenam, menatap kesedihan yang jelas mendalam. Pada puing-puing cinta yang telah lama sirna, aku selalu mengingatmu, meski raga ini rapuh 'tuk mengenang. Di situlah aku terlalu dalam kesedihan di balik raga yang ceria. Aku di sini melawan kesunyian itu, di saat orang-orang sibuk  dengan dirinya sendiri, biarlah aku meratapi, meski kadangkala jenuh. Sebisa mungkin aku kuat dan tetap bersemangat untuk melewati ini semua.

Ada pahit yang kurasakan, saat menggenggam rasa sakit ini, tetap melawan dan menjalani. Kutempuhi hidup ini dengan menerima dan ridho-Nya.

"Cinta adalah di balik waktu, di situ ada rahasia tersembunyi, meski terhalang oleh hijab dunia dan zaman."

Sendiri di kamar memang membosankan, Anindya, seperti langit mendung tanpa matahari. Hari-hari penuh sepi, yang terasa sunyi:

"Apakah aku akan tetap sendiri?"

"Anindya, kurangnya apa aku ini?"

Arunika menjawab;

 

"Aku memang sudah berusaha untuk kebaikanmu, tapi untuk terbit sudah terhalang oleh awan hitam dan payoda."

"Biarkan aku bisikan pada Tuhan? Biar badai mendung ini segera sirna dan hujan cepat reda, demi terang untuk menerangi hatimu yang gelap."

"Terima kasih banyak, Arunika, kau telah memberiku semangat untuk tetap bertahan, dan membantuku dengan sepenuh cinta, jiwa dan raga untukku."

Seperti biasa aku di sini menunggumu. Menunggu cinta datang kembali, sambil mendengarkan musik dan irama melodi. Mondok di pesantren cinta, menggapai sebuah cita-cita dan cinta sejati 'tak kunjung tiba. Hanya dituangkan ke dalam secarik kertas putih dan pena.

Di antara rindu cinta melambai angan-angan diantarkan oleh puisi. Surat-surat yang membekas di dada, itulah yang membuat berbicara padamu, meski sekelumit cerita hanya hakikat rindu dan cinta bersatu.

Para cinta memberi motivasi kepada para patah hati dan para kasmaran yang saat itu sedang dirundung dilema, dan jatuh cinta pada seorang wanita, ia memberi konsultasi pada mereka untuk menimbang perasaannya, untuk menggapai sebuah pencerahan yang nyata agar mendapat imannya masing-masing, untuk menggenggam asa yang menggait rasa.

Memang sulit untuk dicerna, bilamana hati sulit untuk berbicara secara ungkapnya. Sudahi saja rasa gejolak yang mereka pendam.

Betapa tersiksanya menanti dan menunggu, saat-saat waktu yang ditunggu. Malah tak kunjung datang. Tak ada penyemangat dan hiburan. Pada angin kini dan lalu, aku menatap wajah itu yang mulai hirap dan terlelap. Saat-saat waktu telah pulang menunggu di kamar yang kumu.

Di persinggahan jalan yang mulai tak nyaman lagi, aku meraup impian di antara mata air dan sumber cinta melintas roda-roda kehidupan, yang mulai ramai. Ada perdebatan, kesedihan, dan ada pula kesenangan. Bagi mereka-mereka lupa akan arti kepedulian dan kesejahteraan kemaslahatan bersama. Banyak tikus-tikus berkeliaran dan berkendara mewah dan berrumah mewah.  

 

Brebes, 21 Februari 2026

Tidak ada komentar