Cerita Arunika dalam Asmaraloka (2): oleh Kang Thohir


Sumber: Pinterest

 

Episode: "Diamnya Anindya"

"Kapan kamu pulang, Anindya?"

Di balik matamu yang sayu, meski aku bertanya ini dan itu. Kamu enggan menjawabnya. 

"Jawab, Anindya!" Aku berusaha ia malah bersikeras untuk diam menatap bisu.

"Kalau begitu, aku juga ikutan diam aja deh!"

Di balik diamnya itu mengandung teka-teki di ujung senja yang bergelayut jingga.

Ia seakan-akan hanya menatap rembulan saja. Di ujung selatan tanpa melihat di hadapanku. Suasana semakin sunyi di balik jendela tirai bambu. Angin berhembus lalu. Aku menyaksikan bintang-bintang bertebaran, berkelip-kelip di angkasa. Namun rembulan itu seakan-akan ikut murung. Begitu juga dengan sikapnya Anindya kepadaku, yang nampak diam saja dan cuek kepadaku 'tak seperti biasanya.

"Kamu marah ya sama aku, Anindya?"

Ia pun masih 'tak mau menjawab satu katapun, hanya diam membisu menatap rembulan ketika malam. Aku seperti tembok yang 'tak dianggap olehnya, dan seakan-akan aku berbicara sama patung. Kesal iya, karena marahnya itu 'tak ada sebabnya dan akibatnya:

"Dek, aku salah apa sih sama kamu?"

"Ah, sudahlah! Kamu diam melulu!"

Aku menghela nafas, sambil mengelus-elus dada. Karena menahan amarah yang sempat meluap-luap tadi. Akhirnya aku pun pergi meninggalkannya sejenak, untuk menenangkan fikiran dan jiwa. Mungkin esok aku akan tanya lagi sama dia, untuk mencari tahu apa sih penyebabnya sehingga membuat dia marah, sampai-sampai ngediemin aku terus seperti itu. Mungkin hari ini belum tepat kali, yah? Untuk menanyakannya perihal itu,  dan mencari waktu yang tepat untuk menanyakan soal itu, semalam. 

"Hemzzz.. ada-ada aja kamu Anindya, membuat aku khawatir aja. Hem!" Sambil menghela nafas yang amat dalam. 


Bersambung ...


Brebes, 26 Mei 2026

Tidak ada komentar