![]() |
Sumber: Pinterest |
Hujan kali ini turun lebat sekali
Daun yang terkena rintiknya tertunduk nyaris menyentuh tanah
Air yang mengenai atap seng berdentang seperti musik drumband tujuh belas agustusan
Aku meneguk dingin ini sendirian
Mataku nanar melihat luapan air di selokan depan rumah
Air itu coklat kehitaman
Seperti hatiku yang kini gelap
Aku tak tahu harus mencari cahaya dimana
Sungguh telah berkali kali ku ketuk pintu itu
Rumah yang di dalamnya ada aroma mawar
Tapi pintu itu tetap tertutup
Seolah ingin menutup seluruh cerita tentang kita
Sejak saat itu aku tak ingin bicara
Semua kata-kata telah aku nisan kan pada almari baqa
Jika dia ingin menyapaku aku hanya beri jawaban anggukan
Bagiku suaraku adalah emas
Kali ini aku akan simpan serapah siapa saja
Ku telan pada ludah air mata
Kubiarkan aku menjadi asing bagimu
Bahkan bagi diriku sendiri
Aku sering mencium aroma kesturi di gaunmu
Itu bukan aroma mawar seperti milikmu
Bisik-bisik mereka tentangmu aku patahkan dengan diam
Pedang diam itu menghunus telak ke jantung
Kepingin hati ini kutata perlahan
Ku jahit dengan separuh raga yang kian goyah
Kakiku tak lagi kuat menahan beban
Bahuku turun sebelah hingga jalanku miring ke kanan
Hari hari sunyi
Seperti pedal sepeda yang tak bisa lagi di kayu
Terduduk lantas tak mampu bangkit
Tapi pantang bagiku mengemis belas kasih
Biarkan mataku puas menikmati tikaman prilakumu
Aku kian terpuruk pada cinta
Cinta yang begitu aku agungkan
Benih itu berbuah penghianatan
Aku terlalu angkuh untuk mengaminkan salahmu
Begitu buta aku menyayangimu
Akhirnya aku kalah
Hunjaman belati luka telah lama kupendam
Sendiri!!!
Luka itu kini benar-benar akan membawaku kembali
Pada dia yang telah menunggu pulangku
Saat aku pulang tangismu pecah
Aku tak tahu itu tangis piatu atau tangis sendau gurau belaka
Kini setelah aku pulang
Aku bebaskan dikau dengan apapun jua
Rokan hilir, 25 April 2026


Tidak ada komentar