Cerita Cinta: Puisi Kang Thohir


Sumber: Pinterest


Suatu ketika ada seorang menyapa

Mengendap di ruang cinta

Lalu masuk di persinggahan

Dengan lembut penuh harapan


Di antara resah gelisah

Mencoba 'tuk tenang

Terasa gairah

Bila saling memandang


Bersaut dan bercakap-cakap

Seperti kicauan burung hinggap

Meski hanya sebentar

Tapi terasa begitu bergetar


Ah, kenapa ini?

Di balik ruang itu

Seakan senyap menghampiri

Hening tak menentu


Dia pun tersenyum malu

Pipinya manis seperti madu

Bercumbu dengan waktu

Mata menatap ke sana ke situ


Butiran ilusi melayang

Saat degupan ini semakin kencang

Mungkin aku grogi 

Bertanya di hadapan sanubari


Kucoba berfikir dalam hati

Apakah dia adalah jodohku?

Ada keistimewaan di balik ini

Mungkin dia sang bidadari?


Aku pun masih bertanya-tanya

Soal rasa dan cinta

Padahal aku baru mengenalnya

Berasa sudah kenal lama


Terasa nyaman bila bertemu

Dia terasa mengetuk kalbu

Aku pun membukanya dengan sepenuh rasa

Meski pintu itu telah tertutup lama


Dia begitu anggun menatap 

Asa terbang terpesona

Andai kumiliki penuh harap

Menjadikan dia sang bidadari surga


Apakah mungkin aku bisa bersanding dengannya?

Bahwa aku ini bukan siapa-siapa

Hanya insan biasa dan sederhana

Apakah dia suka sama aku yang apa adanya?


Minder dibuatnya

Karena aku tak pantas memilikinya

Karena dia begitu sempurna

Dibandingkan aku yang sederhana


Beberapa hari kemudian

Aku bertemu kembali dengannya 

Di bawah naungan persinggahan

Seperti biasa dia menatapnya


Walau dia datang pas ketika senja

Membawa permadani

Di balik senyuman yang manja

Dia pun menghampiri


Aku menyambutnya penuh bahagia

Bak seorang putri ratu

Aku menyambutnya

Meski hati berdegup tak menentu


Setelah kusambut kupersilahkan dia duduk di ruang itu

Bergemalah kalbu

Berdansalah pada ilusi

Sukma seakan berpadu


Namun gerimicik gerimis mengundang

Pada payoda menyambut swastamita

Di antara lentera sebagai penerangnya

Dan diselimuti bunga mengembang


Harumi suasana di ruang itu

Semerbak aroma rasa 

Menambah semangat asa

Menepis segala sendu 


Dia pun bercerita

Bersamaku penuh hikmat

Dari kata demi kata 

Ah, ini seperti teman hidupku sampai akhir hayat 


Setelah bercerita cukup lama

Akhirnya dia pamit pulang

Saat arunika menyapa

Di bawah selimut cahaya melayang


Diiringi pelan di jatung harapan

Melangkah keluar rumah persinggahan

Dipelantara roda berjalan

Hirap hirup aroma perpisahan


Pustaka cinta dekapan rasa

Tak ingin lepas darinya

Meski esok hari akan kembali

Itu hanya sekedar mimpi


Dia pun melaju kencang

Bak seekor burung terbang

Tatapan itu kian hilang

Hirap bayang


Ditawan rasa membumbung

Terlepas darinya

Hati menyambung

Berlari menuju arahnya


Hati ini terus bersamanya

Meski sudah pergi dari tatapannya

Namun rasa cinta terus ada

Menyatu dalam kalbu dan jiwa


Setelah itu aku masuk kamar

Kurebahkan atma ini yang lelah

Sambil ngotak-ngatik handphone

Berharap dia sampai memberi kabar


Hati terasa gundah gulana

Saat ditinggal tadi

Meski hanya baru sebentar

Hati ini terasa rindu sekali


Oh, inikah yang dinamakan jatuh cinta?

Berdebar di dada

Berpesta riang 

Terbayang melayang-layang


Bersambung ....



Brebes, 17 Juni 2023

Tidak ada komentar