![]() |
Sumber:Pinterest |
Arunika (33)
Aku seakan menari di kesunyian tanpa arah tujuan. Ketika kunang-kunang membawa cahaya kelap-kelip di depan pelupuk mataku, masih belum bisa menawarkan rindu padanya yang sayu. Aku sebenarnya sudah jenuh berada di lingkaran itu. Tertekan, muak, resah gelisah, bingung, merana dan sembilu. Izinkan aku merantau di hatimu, biarkan aku menggenggam cita-cita 'tuk menggapaimu. Di ujung tanduk rindu yang menggelayuti dedaunan yang mulai gugur dan layu. Biarkan aku bersembunyi di balik tembok biru itu dan bercermin malu, aku merayap temu. Mereka mengucapkan "good bye" (selamat tinggal), aku 'tak kuasa melambai. Di sini aku masih termangu. Menatap erupsi cinta yang mulai tercemar oleh kabut hitam yang kelabu. Berbisik-bisik dalam suara yang semu, namun sangatlah licik, sangatlah menyedihkan, bila ditatap. Begitulah aku memandangnya. Biarkanlah orang-orang membenci, aku hanya mendengarkan saja, lalu tinggalkan. Begitulah.
Arunika (34)
Saat matahari terbenam, menatap kesedihan yang jelas mendalam. Pada puing-puing cinta yang telah lama sirna, aku selalu mengingatmu, meski raga ini rapuh 'tuk mengenang. Di situlah aku terlalu dalam kesedihan di balik raga yang ceria. Aku di sini melawan kesunyian itu, di saat orang-orang sibuk dengan dirinya sendiri, biarlah aku meratapi, meski kadangkala jenuh. Sebisa mungkin aku kuat dan tetap bersemangat untuk melewati ini semua.
Ada pahit yang kurasakan, saat menggenggam rasa sakit ini, tetap melawan dan menjalani. Kutempuhi hidup ini dengan menerima dan ridho-Nya.
"Cinta adalah di balik waktu, di situ ada rahasia tersembunyi, meski terhalang oleh hijab dunia dan zaman."
Arunika (35)
Sendiri di kamar memang membosankan, Anindya, seperti langit mendung tanpa matahari. Hari-hari penuh sepi, yang terasa sunyi:
"Apakah aku akan tetap sendiri?"
"Anindya, kurangnya apa aku ini?"
Arunika menjawab;
"Aku memang sudah berusaha untuk kebaikanmu, tapi untuk terbit sudah terhalang oleh awan hitam dan payoda."
"Biarkan aku bisikan pada Tuhan? Biar badai mendung ini segera sirna dan hujan cepat reda, demi terang untuk menerangi hatimu yang gelap."
"Terima kasih banyak, Arunika, kau telah memberiku semangat untuk tetap bertahan, dan membantuku dengan sepenuh cinta, jiwa dan raga untukku."
Arunika (36)
Seperti biasa aku di sini menunggumu. Menunggu cinta datang kembali, sambil mendengarkan musik dan irama melodi. Mondok di pesantren cinta, menggapai sebuah cita-cita dan cinta sejati 'tak kunjung tiba. Hanya dituangkan ke dalam secarik kertas putih dan pena.
Arunika (37)
Di antara rindu cinta melambai angan-angan diantarkan oleh puisi. Surat-surat yang membekas di dada, itulah yang membuat berbicara padamu, meski sekelumit cerita hanya hakikat rindu dan cinta bersatu.
Para cinta memberi motivasi kepada para patah hati dan para kasmaran yang saat itu sedang dirundung dilema, dan jatuh cinta pada seorang wanita, ia memberi konsultasi pada mereka untuk menimbang perasaannya, untuk menggapai sebuah pencerahan yang nyata agar mendapat imannya masing-masing, untuk menggenggam asa yang menggait rasa.
Memang sulit untuk dicerna, bilamana hati sulit untuk berbicara secara ungkapnya. Sudahi saja rasa gejolak yang mereka pendam.
Arunika (38)
Betapa tersiksanya menanti dan menunggu, saat-saat waktu yang ditunggu. Malah tak kunjung datang. Tak ada penyemangat dan hiburan. Pada angin kini dan lalu, aku menatap wajah itu yang mulai hirap dan terlelap. Saat-saat waktu telah pulang menunggu di kamar yang kumu.
Arunika (39)
Di persinggahan jalan yang mulai tak nyaman lagi, aku meraup impian di antara mata air dan sumber cinta melintas roda-roda kehidupan, yang mulai ramai. Ada perdebatan, kesedihan, dan ada pula kesenangan. Bagi mereka-mereka lupa akan arti kepedulian dan kesejahteraan kemaslahatan bersama. Banyak tikus-tikus berkeliaran dan berkendara mewah dan berrumah mewah.
Bersambung ...
Brebes, 21 Februari 2026


Tidak ada komentar