Bayangkan kita terbangun
di suatu pagi. Hal pertama yang kita lakukan bukanlah menarik napas dalam-dalam
atau merasakan kehangatan selimut, melainkan meraba nakas, mencari benda pipih
bernama ponsel, dan seketika "menghubungkan" diri dengan dunia. Dalam
lima menit pertama, kita sudah menyerap berita duka dari belahan dunia lain,
melihat pencapaian teman SMA yang baru membeli rumah, membaca komplain
pelanggan di grup kantor, dan terpapar iklan produk yang sebenarnya tidak kita
butuhkan.
Selamat datang di dunia
modern. Sebelum kaki kita menyentuh lantai, pikiran kita sudah
"berlari" sejauh ribuan kilometer. Inilah yang kita sebut sebagai
Riuh yang Tak Usai.
Kebisingan yang Tak Kasat
Mata
Seringkali, kita
mengartikan "kebisingan" hanya sebatas suara knalpot kendaraan,
dentum musik tetangga, atau teriakan di pasar. Namun, kebisingan dunia modern
jauh lebih subtil dan berbahaya karena ia menyusup langsung ke dalam kesadaran
kita tanpa suara.
Ada tiga jenis kebisingan
yang mengepung kita setiap hari:
- Kebisingan Informasi (Information
Overload): Kita hidup di era di mana data diproduksi lebih cepat
daripada kemampuan otak kita untuk memprosesnya. Setiap detik, ada ribuan
artikel, video, dan pesan yang menuntut perhatian kita. Kita merasa harus
tahu segalanya, karena takut dianggap ketinggalan (FOMO - Fear of
Missing Out).
- Kebisingan Ekspektasi: Ini adalah
suara-suara di kepala kita yang berkata, "Kita harus sukses di
usia 25," "Kita harus punya tubuh ideal," atau "Kenapa
hidup kita tidak seindah feed Instagram orang lain?" Kebisingan
ini menciptakan standar hidup yang tidak realistis bagi kita.
- Kebisingan Pilihan: Pernahkah kita
menghabiskan waktu 30 menit hanya untuk memilih film apa yang ingin
ditonton di layanan streaming, hingga akhirnya kita justru merasa
lelah dan tidak jadi menonton? Terlalu banyak pilihan seringkali bukan
kemerdekaan, melainkan beban pikiran yang melelahkan bagi kita.
Contoh Nyata: Terjebak
dalam Pusaran "Scroll"
Mari kita ambil contoh
sederhana dalam kehidupan sehari-hari: Makan siang sendirian.
Dahulu, makan siang
adalah momen jeda. Kita merasakan tekstur nasi, aroma sayur, dan mungkin
sesekali memandang orang-orang yang lewat di depan kedai. Ada proses sensorik
yang terjadi antara manusia dan makanannya.
Kini, lihatlah sekeliling
kita di kafe atau kantin. Hampir setiap orang makan dengan satu tangan memegang
sendok dan tangan lainnya melakukan scrolling di layar ponsel. Mulut
mengunyah, tetapi pikiran sedang berada di kolom komentar sebuah portal berita.
Lidah mungkin mencecap rasa pedas, tetapi otak sedang sibuk membandingkan diri
dengan gaya hidup seorang influencer.
Apa dampaknya? Kita
selesai makan dalam keadaan kenyang secara fisik, namun secara mental kita
merasa kosong dan lelah. Kita kehilangan momen "saat ini" (the
present moment) karena pikiran kita selalu ditarik ke tempat lain oleh
kebisingan digital.
Paradoks Konektivitas
Dunia modern menjanjikan
kita kemudahan untuk terhubung dengan siapa saja, kapan saja. Namun,
paradoksnya adalah: Semakin kita terhubung dengan dunia luar melalui teknologi,
semakin kita terputus dari diri kita sendiri.
Kita menjadi sangat ahli
dalam merespons notifikasi WhatsApp dalam hitungan detik, tetapi kita sangat
payah dalam merespons sinyal tubuh kita sendiri yang sudah berteriak minta
istirahat. Kita tahu persis apa yang sedang viral di internet, tetapi kita tidak
tahu apa yang sedang dirasakan oleh hati kita yang paling dalam.
Kebisingan ini membuat
kita kehilangan kemampuan untuk mendengar suara batin. Suara batin itu lembut,
tenang, dan jujur. Namun, ia tidak akan bisa terdengar jika setiap celah waktu
dalam hidup kita diisi dengan suara-suara dari luar.
Mengapa Kita Takut akan
Keheningan?
Mengapa kita seolah-olah
sengaja mencari keriuhan? Mengapa saat menunggu antrean di bank selama tiga
menit saja, kita langsung meraih ponsel?
Jawabannya mungkin karena
keheningan itu jujur. Saat dunia menjadi sunyi, semua pertanyaan yang selama
ini kita abaikan mulai bermunculan:
- "Apakah aku benar-benar bahagia
dengan pekerjaanku?"
- "Mengapa aku merasa sangat hampa
belakangan ini?"
- "Apakah aku sedang mengejar
tujuanku, atau hanya mengikuti ambisi orang lain?"
Keriuhan dunia modern
menjadi "obat bius" agar kita tidak perlu menjawab
pertanyaan-pertanyaan sulit itu. Kita menyibukkan diri agar tidak perlu merasa.
Kita meramaikan telinga agar tidak perlu mendengarkan sunyi yang menakutkan.
Menyadari Adalah Langkah
Pertama
Bab ini tidak meminta
kita untuk membuang ponsel atau mengasingkan diri ke gunung. Hidup di dunia
modern memang menuntut kita untuk berada di tengah keriuhan. Namun, langkah
pertama untuk sembuh adalah dengan menyadari.
Menyadari bahwa kita
sedang "berisik".
Menyadari bahwa otak kita
sedang kewalahan.
Menyadari bahwa tidak
semua informasi harus diserap, dan tidak semua komentar harus dibaca.
Jeda dimulai dari sebuah
kesadaran sederhana: bahwa hidup tidak seharusnya menjadi perlombaan lari tanpa
garis finis. Bahwa keriuhan ini adalah pilihan, dan kita memiliki hak untuk
sesekali menekan tombol mute pada dunia.
Kontemplasi Hari Ini:
Coba perhatikan, dalam 24
jam terakhir, berapa banyak waktu yang benar-benar kita habiskan dalam
keheningan total tanpa gangguan gawai? Jika jawabannya adalah "hampir
tidak ada", maka barangkali itulah alasan mengapa jiwa kita terasa begitu
lelah.


Tidak ada komentar