Hilangnya Arah Sebuah Sekolah: Catatan Bambang Kariyawan Ys.

 


Tidak semua sekolah yang sibuk sedang berjalan ke arah yang benar. Bayangkan sebuah sekolah yang setiap minggu menggelar rapat koordinasi, workshop eksternal, dan lomba antar-kelas. Agenda padat, promosi siswa melalui media sosial rapi, dan program ekstrakurikuler berganti-ganti mengikuti tren. Namun, jarang ada yang berhenti sejenak untuk bertanya: "Sebenarnya, ke mana sekolah ini sedang menuju?"

Lewis Carroll pernah mengingatkan dalam Alice's Adventures in Wonderland: "If you don't know where you're going, any road will take you there." Dalam pendidikan, kesibukan tanpa tujuan hanya melahirkan kelelahan, bukan kemajuan. Sebuah SMA swasta di kota X, mereka sibuk mengejar akreditasi A dengan menambah jam pelajaran tambahan dan ujian simulasi harian. Hasilnya? Nilai rapor naik, tapi survei siswa menunjukkan 70% merasa stres dan kehilangan minat belajar, karena tidak ada waktu untuk proyek kreatif atau diskusi mendalam.

Visi dan Misi: Dari Dinding ke Kehidupan Sehari-hari

Banyak sekolah memiliki visi dan misi yang ditulis indah, dibingkai rapi, dan dipajang di dinding aula. Namun, persoalannya bukan pada tulisan, melainkan pada kehidupan visi itu dalam setiap keputusan harian.

John Dewey berkata, "Education is not preparation for life; education is life itself." Jika visi hanya menjadi slogan, pendidikan kehilangan ruhnya—berubah menjadi sistem administratif, bukan proses memanusiakan manusia.

Di sebuah sekolah menengah di Riau, visi "Mencetak generasi berakhlak mulia dan berprestasi global" terpampang megah. Tapi dalam praktik, keputusan prioritas justru mengejar target penerimaan siswa baru lewat iklan berbayar di Instagram, bukan membangun program literasi Melayu lokal yang selaras dengan visi budaya. Akibatnya, siswa hafal rumus biologinya, tapi jarang diskusikan etika lingkungan Riau yang kaya gambut—visi jadi pajangan, bukan kompas.

Pergeseran Ukuran Keberhasilan: Dari Kebutuhan Siswa ke Tuntutan Pasar

Ketika tujuan tidak jelas, ukuran keberhasilan pun bergeser. Program dibuat bukan karena dibutuhkan siswa, melainkan karena bisa dijual ke orang tua. Kurikulum diubah bukan dari refleksi pedagogis, tapi tuntutan pasar kerja instan.

Paulo Freire mengingatkan dalam Pedagogy of the Oppressed: "Ketika pendidikan berubah menjadi bisnis, murid tidak lagi dipandang sebagai manusia, melainkan sebagai pelanggan." Di titik ini, sekolah tampak maju secara administratif, tapi menjauh dari amanah pendidikan.

Sebuah sekolah vokasi di Kota X—mereka tambah kelas coding dan bahasa Inggris premium untuk "siap kerja industri 4.0", meski survei tracer study alumni menunjukkan 60% lulusan kesulitan adaptasi sosial-emosional di tempat kerja. Program ini laris karena promosi "jaminan IPK tinggi", tapi siswa kehilangan ruang untuk pengembangan soft skills seperti kerjasama tim, yang sebenarnya lebih dibutuhkan pasar.

Dampak pada Guru: Dari Penuntun ke Operator Sistem

Yang paling merasakan dampaknya adalah guru. Mereka bekerja keras, tapi tidak diberi ruang berpikir—diminta patuh, jarang dipercaya.

Ki Hadjar Dewantara mengingatkan: "Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum, tapi penuntun tumbuhnya manusia." Ketika guru direduksi menjadi operator sistem, pendidikan kehilangan akarnya, dan guru pelan-pelannya kehilangan makna.

Di SMA swasta Kota X, guru biologinya wajib ikut target kelas privat harian untuk tambah PAD sekolah. Hasilnya, turnover guru tinggi—satu guru senior resign karena "hanya jadi sales, bukan educator". Siswa pun hadir setiap hari, belajar, mengikuti aturan, mengejar angka. Tapi sering hanya bertahan, bukan bertumbuh. Jika sekolah sibuk mengisi target tanpa menyalakan api belajar, kita membesarkan generasi lelah sebelum bermimpi.

Ironi Keuangan vs. Kehilangan Nilai

Ironisnya, sekolah seperti ini bisa untung finansial: jumlah murid bertambah, laporan keuangan sehat. Tapi hal penting tak muncul di laporan—karakter, makna, kejujuran, kemanusiaan.

Pertanyaan jujur untuk manajemen: Apakah kita membangun manusia, atau sekadar mengelola usaha? Sekolah memang harus profesional, tapi profesionalisme tanpa nilai melahirkan institusi dingin.

C.S. Lewis berkata: "Education without values may make a man more clever, but not more human." Keuntungan boleh dicari, sistem dibangun, manajemen rapi. Tapi tujuan pendidikan tak boleh dijual. Karena ketika sekolah kehilangan arah, yang hilang bukan hanya idealisme pendidikan, melainkan masa depan yang tak sempat kita jaga.

 

Catatan: Pengembangan dari tulisan Fardella Agustana, S.Pd. Gr.

 

Tidak ada komentar