![]() |
Sumber: Pinterest |
Sinau Bareng
Tajug Kamanungsan di dusun “Temukerep” (rapat pertemuan)-Larangan-Brebes,
bersama para pegiat tajug Acara Tawasulan, dan dilanjut membahas sejarah dusun
Temukerep-Larangan dari sisi makam-makam leluhur dusun Temukerep bersama para
narasumber-narasumber yang hadir dan sekaligus dzuriyahnya atau warga setempat
Temukerep, ada yang keturunan dari Mbah Suro Dipo Nenggala, Mbah Tarnyan, dan
Mbah Kyai Kholil ulama dusun Temukerep, dan sebaginya.
Memang sangat
menarik menelusuri jejak-jejak sejarah dari hikayat-hikayatnya, dan dari sisi
perjuangannya dari zaman penjajahan dan sampai kemerdekaan Indonesia.
Ada banyak
ulama-ulama leluhur di situ dan situs-situs prasasti yang tertinggal dan
simbolik yang terdapat pada pohon barsiah/kayu atau kahayun (hidup) dan batu
nisan, berupa simbol purnomo sidi dan daun sulur, yang menandakan seorang ulama
yang punya legalitas menyebarkan informasi atau berdakwah.
Melihat dari
Periode Tokoh tersebut Kemungkinan hidup di sezaman dengan Pangeran Diponegoro,
yang kemungkinan prajuritnya Pangeran Diponegoro pada tahun 1800-an, atau
seorang pengamal thoriqoh/hizbullah. Atau kemungkinan juga trah Mataram Islam
dan zamannya penjajahan sampai awal kemerdekaan. Banyak di situ terdapat
situs-situs makam-makam leluhur dusun Temukerep-Larangan, mulai dari makamnya
Mbah Surodipo Neggolo, Mbah Kyai Kholil, adapula Nyai Siti Masitoh yang konon
beliau adalah seorang Syarifah, yang berdakwah atau mengajar ngaji di dusun
Temukerep, dan juga Mbah Taryan/Turyan sesepuh dusun Temukerep, dan sebagainya.
Sementara
makam-makam yang lain belum ditemukan dan masih perlu dianalisa secara
spesifik, sehingga dalam hal ini masih terus digali oleh Miftahul Aziz Lesbumi
dan pegiat tajug Arif Muttaqin setempat dan dikaji lagi oleh para
narasumber-narasumber yang ada di dusun Temukerep, termasuk yang hadir di situ,
dengan sesepuh dusun Temukerep juga termasuk juru kunci dan lebe dan ulama
keturunannya leluhur dusun Temukerep tersebut.
Menarik
sekali, dan perlu digali lagi yang lebih mendalam untuk pemberitahuan atau
informasi di masa yang akan datang kepada generasi ke generasi penerus sebagai
warisan sejarah leluhur dan kebudayaan yang harus dijaga atau dilestarikan, dan
sangat berharga untuk anak-anak cucu nanti, dan hikayat yang akan terkenang
sepanjang masa.
Salam budaya dan salam literasi
anak bangsa.
Brebes, 08 Juli 2025


Tidak ada komentar