Dini hari Madinah begitu dingin,
udara mengalir pelan tapi sungguh menusuk
hingga ke sum sum tulang
seperti sedang menenangkan hati yang runyam
Kubah hijau tampak di atas sana
tenang, teduh,
cukup untuk membuat dadaku merunduk berkecamuk
Di halaman Nabawi,
manusia datang seperti arus panjang,
semua membawa cinta yang sama.
Melangkah menapaki serambi Raudhah,
udara berubah lembut dan hangat
Di celah makam mu
aku hanya mampu berbisik tertahan
“Assalamualaika yaa Rasulullah…
assalamualaika yaa Habiballah…”
Kata-kata itu singkat,
tapi dadaku merapat sesak,
tangisku pecah di detik yang sama
seperti seluruh rapuhku tersingkap.
Doa-doa yang kususun jauh hari
menguap begitu saja,
tinggal rindu dan malu
Diri kerdil
bukan takut,
melainkan sadar
betapa sungguh jauh akhlak ku
Waktu terasa tanpa ampun menunggu
askar memberi tanda sedikit bentak
aku tetap diam bergeming
seolah kakiku menolak
meninggalkan karpet hijau ini
hingga akhirnya aku bergerak
karena harus,
bukan karena ingin.
di yaumil akhir nanti,
Bagaimana engkau mengenaliku, ya Rasulullah?
Dari namaku? dari wajahku? atau dari amal yang sering kali kuabaikan?
Mentari pagi mengintip dari celah antara Mizhollāt Nabawi
mengganti cemas menjadi asa
semakin terang dan menghangatkan
"wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam sejahtera dengan penghormatan yang sepenuhnya."


Tidak ada komentar