Di antara gelombang hambaMu yang lirih berdoa,
aku berdiri lemah seperti sebutir debu
yang terseret menuju dinding ka'bah Mu
yang hitam dan agung,
yang menyimpan seluruh kisah kelu
sejak berabad waktu.
Aku mengangkat tangan,
namun hati yang lebih dulu jatuh berlutut.
Di bawah cahaya emas pintu-Mu
yang memantulkan harap dan gentar,
aku merasa rapuh seperti malam
yang kehilangan bulan.
Setiap hela napas menjadi permohonan,
setiap langkah menjadi gugur pasrah.
Dan saat jarakku tinggal sedepa,
Ka'bah memandangku
seolah mengenali retak-retak jiwaku
yang lama kusembunyikan.
Aku mengetuk tanpa suara
dengan dosa yang tak sanggup kuucap,
dengan sesal yang menua dalam dada,
dengan rindu yang tak pernah selesai
sejak namaMu pertama kali diajarkan ayah ibu
Tak ada kata yang benar-benar layak,
maka kupasrahkan diriku
seperti daun yang jatuh ke tanah
karena angin yang Kau kirim.
Di sini, di hadapan pintu yang tak pernah tertutup,
aku merasa kecil
namun tidak ditinggalkan.
Malam menjadi saksi
bahwa aku datang bukan membawa apa-apa,
kecuali hati yang ingin pulang.
Dan andai ketukan ini tak terdengar,
aku tetap berdiri, tetap mengetuk,
sebab kepada-Mu lah satu-satunya
tempat kosong ini menemukan rumah.


Tidak ada komentar