Kabah: Puisi Herru As Syukri



Di antara gelombang hambaMu yang lirih berdoa,

aku berdiri lemah seperti sebutir debu

yang terseret menuju dinding ka'bah Mu

yang hitam dan agung,

yang menyimpan seluruh kisah kelu 

sejak berabad waktu.


Aku mengangkat tangan,

namun hati yang lebih dulu jatuh berlutut.

Di bawah cahaya emas pintu-Mu

yang memantulkan harap dan gentar,

aku merasa rapuh seperti malam

yang kehilangan bulan.


Setiap hela napas menjadi permohonan,

setiap langkah menjadi gugur pasrah.

Dan saat jarakku tinggal sedepa,

Ka'bah memandangku

seolah mengenali retak-retak jiwaku

yang lama kusembunyikan.


Aku mengetuk tanpa suara

dengan dosa yang tak sanggup kuucap,

dengan sesal yang menua dalam dada,

dengan rindu yang tak pernah selesai

sejak namaMu pertama kali diajarkan ayah ibu


Tak ada kata yang benar-benar layak,

maka kupasrahkan diriku

seperti daun yang jatuh ke tanah

karena angin yang Kau kirim.

Di sini, di hadapan pintu yang tak pernah tertutup,

aku merasa kecil

namun tidak ditinggalkan.


Malam menjadi saksi

bahwa aku datang bukan membawa apa-apa,

kecuali hati yang ingin pulang.


Dan andai ketukan ini tak terdengar,

aku tetap berdiri, tetap mengetuk,

sebab kepada-Mu lah satu-satunya

tempat kosong ini menemukan rumah.

Tidak ada komentar