Bayang-Bayang Traumatik (2) : Cermin Kang Thohir


Microsoft AI Creator


Dia masih saja merangkai kata, di balik kamar itu. Dia masih saja sendiri melambai puing-puing sunyi dan hembusan angin malam yang merayu. Di balik jeruji pilu ia mengendapkan cita-cita yang begitu besar digenggamannya. Namun, masih saja kepikiran bayang-bayang traumatik, meski kadang ia berusaha melupakannya. Adakalanya harus merenung dan menyendiri untuk menghibur diri. 

Di dalam jiwa berkata, "Kenapa aku seperti ini terus, ya?" Sambil menatap penuh harapan agar bisa keluar dari zona itu, dan menatap masa depan yang lebih cerah dan terbuka.

Adakalanya ia muak dengan realita seperti ini, yang terus menerus menyiksanya laksana terbelenggu dalam fatamorgana dan sandiwara mereka belaka.

Seorang sahabat berkata, "Kenapa kamu tak keluar dari ruangan itu?" Dia menjawab, "Aku tak bisa, karena aku sudah terbelenggu dari amukan masa kini." Seorang sahabat hanya bisa menghela nafas, dan untuk menyemangatinya agar bisa keluar dari belenggunya. 

"Tetap semangat! Kamu harus bisa!"

Mendengar itu, dia seakan-akan bangkit kembali dan berusaha keluar dari zona belenggu itu. 

Dia masih berusaha untuk bisa keluar dari zona belenggu, namun hasilnya nihil dan masih saja seperti itu. Dia hampir putus asa dan hampir menyerah begitu saja.

Keesokan harinya ia berjalan-jalan dan ingin menikmati rasa kesejukan itu di pagi hari, ia ingin menghabiskan waktu untuk bertamasya di kebun bersama tumbuhan dan sejuknya embun deket persawahannya. 

Dia menatap sebuah harapan dan cita-cita yang ingin ia raih impiannya selama ini, yang ia pendam.

Pada angin yang menghembuskan di antara jiwa dan kalbu, ia sumringah mengundang gairah suasana pagi. Ditambah kicauan burung-burung melayang-layang dan kupu-kupu yang cantik ikut menambah suasana indah pemandangannya yang kian syahdu. 

Di situlah ia menemukan arti kebahagiaan jiwa dan hatinya, yang sedikit terobati dan menghiburnya. 

Dia menikmati semua itu dengan hati yang tenang dan bercampur bahagia, karena ditemani oleh alam yang indah dan kesejukannya. 

Dia tinggal di desa terpencil dan dikelilingi oleh persawahan yang tumbuh segar dan hijau, sehingga ia selalu pergi ke sawahnya guna merawat padi dan bawang merah miliknya. 

Dia adalah seorang petani yang hidupnya selalu menyendiri, dan dia ingin lari dari dunia fatamorgana itu, yang membelenggunya dan membuat ia merana.

Bersambung ...


Brebes, 18 Februari 2025

Tidak ada komentar