Selamat Berkurang Umur: Cermin Bunda Swanti


Microsoft AI Creator


Malam masih terlalu muda

Aku rebahkan tubuhku di ranjang tua, menantimu

Sesekali aku berbincang dengannya.

"Kamu ingin makan apa?", tanyanya lagi.

"Rasanya malam ini aku pengen makan pisang goreng," seruku sembari membayangkan lezatnya pisang goreng.

"Ya sudah, besok Bapak belikan," jawabnya antusias.

Malam merangkak perlahan tapi mataku tidak juga dikunjungi kantuk. Dia disana semakin aktif, sesekali aku merasakan ngilu, ya pinggang dan perutku terasa sakit sekali.


Aku simpan semua sakitku, aku elus perutku sembari berkata-kata baik-baik disana ya sayang, kita akan berjuang bersama sama.

Malam makin larut, sakitku pun kian tak terlukiskan akhirnya aku menyerah, tak mungkin aku mendiamkan ngilu ini berlarut-larut.

" Mak, perutku sakit sekali," rintihku dari dalam kamar.

Emak dan Bapak tergopoh keluar dari kamar mereka menemuiku.

"Kita panggil bidan sekarang ya," kata Bapak.

Tidak selang berapa lama Bidan pun datang dan memeriksa keadanku.


Detik-detik kehadiranmu sangat mendebarkan bagiku, ini pengalaman pertamaku.

Sakit? Jangan ditanya

Sedih? Jangan pula diungkit

Saat persalinan aku harus berjuang sendiri tanpa suami ada di sisiku.

Tapi aku tetap bertekad, aku pasti mampu jadi seorang ibu yang kuat, dengan izin Rabbku.

Kutahan airmataku, saat suara tangismu kudengar untuk pertama kali.

Bersamaan kumandang azan subuh terdengar bersahutan, seolah menyambut hadirmu dengan suka cita.


Kau lalu diazankan dengan lelaki itu, dengan suara serak harunya.

Kau digendong dalam dekap eratnya, "cucuku tampan sekali", lirih suaranya nyaris tak terdengar.


Hari demi hari kau tumbuh,semakin besar dan sehat 

Aku bersyukur kau diberi Allah tubuh yang sehat dan IQ yang cerdas.

Kau kebanggaanku, kebanggaan kami.

Dari dulu hingga nanti


Barakallah fii umrik lelaki hebatku,sulungku

Sayang mamak banyak banyak.


Rokan Hilir, 18 Januari 2024

Tidak ada komentar