Bungsu: Cermin Bunda Swanti


Microsoft AI Creator


Entah sudah malam keberapa aku merasakan ngilu di pinggang, cuaca juga sangat sendu gerimis terus. 

Perutku kali ini besar sekali, masa kehamilanku sudah lewat trisemester tiga. 

Namun tanda-tanda melahirkan belum ada. 

Padahal prediksi bu Bidan tempat aku biasa posyandu jadwalnya HPL  (Hari perkiraan Lahir) sudah sebulan berlalu. 

Bayiku diperkirakan juga kembar, dalam hati aku berkata "pantas saja perutku besar banget, ternyata ada dua baby di dalam".

Malam ini pun aku minta ke suami untuk segera panggil Bidan karena aku merasa perutku mules sekali. 

Bu Bidan pun datang dan memeriksa tapi belum juga ada tanda-tanda. Akhirnya bu Bidan pulang lagi. 

Tinggallah aku yang merasakan sakit hilang hilang timbul. 

Paginya bu Bidan datang lagi dengan membawakan aku air zamzam dan bunga rumput Fatimah oleh oleh ibunya sepulang berhaji untuk aku minum. Katanya lagi semoga dengan perantara itu aku bisa segera lahiran. 

Dengan sabar bu Bidan menunggu aku hingga malam. Tapi belum juga ada tanda-tanda. 

Bu Bidan pun nekad tidur di gubuk reyot kami demi menunggui aku. 

"Heran, orang mau lahiran biasanya ngelu sakit atau apalah, tapi kakak kok kayak tidak mau lahiran, diam saja kayak gak kesakitan", katanya sembari tersenyum. 

Padahal, amboi jangan ditanya sakit udah berhari-hari. Tapi masak iya aku harus teriak, nyengir atau nangis. 

Mending kusimpan tenaga untuk lahiran. 

Bahkan semua keluarga sudah ngumpul, kakak ipar, adik ipar pada tidur berselema di lantai beralaskan tikar saja

Hingga subuh menjelang, azan berkumandang saling bersahutan. Aku beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu dan shalat subuh, setelah sebelumnya aku pamit dengan bu Bidan. 

Usai shalat subuh aku berencana akan jalan-jalan pagi karena biasa seperti itu. Tapi sebelumnya bu Bidan bilang, "Kak, sini aku suntik dulu, jika setelah aku suntik tetap belum ada tanda-tanda melahirkan kita terpaksa harus ke Rumah sakit".

Lalu aku pun berbaring di tempat tidur yang kupakai tidur malam tadi. Satu suntikan di paha kananku sudah diberikan bu Bidan. 

Lantas aku segera turun dari tempat tidur dengan kaki kananku terlebih dahulu. 

Namun tanpa diduga babyku mengajak ngejan. 

Tanpa persiapan tempat, semua serba mendadak. 

Alhamdulillah akhirnya lahirlah bungsuku secara normal dengan bobot 5 kilogram bersih. 

Pantaslah dia tidak ajak "uwat" sebab tali pusarnya melilit leher, dan tangan jadi tiap dia akan keluar selalu tertarik kembali. 

Aku percaya ini kuasa Allah, Alhamdulillah. 

Kini  engkau telah tumbuh besar, dengan harapan besar pula. 

Mulia sungguh cita-citamu akan membawa kami haji atau Umroh. Untuk ukuran logika manusia itu tidak akan mungkin tapi jika Allah berkehendak tiada yang tak mungkin bagi-Nya. 

Niat tulusmu terus aku Aamiin kan, bahkan tiap sujudku aku langitkan do'a terbaikku untukmu. 

Bukankah ridha ibu itu juga ridha Allah. 

Bukankah tiap do'a akan dikabulkan-Nya

Aku yakin itu, aku percaya pada kuasa-Nya. 

Dan tahukah kamu bungsuku? Aku bangga padamu, aku bersyukur telah melahirkanmu dan memilikimu. 

Maaf aku yang masih belum mampu memberikan apa yang engkau mau. 

Barakallah fii umrik adek. 

Kesayanganku tetaplah jadi qurotaayyun kami, kebanggaan kami Kuatkan hafalannya ya


Rokan Hilir, 29 Januari  2025

Tidak ada komentar