Aku
adalah anak terakhir yang mempunyai dua saudara perempuan dan saudara saudara
laki-laki, seperti yang kita tau bahwa anak terakhir adalah anak yang manja ya
itulah aku. Keseharianku cuma makan, tidur dan bermain. Ketiga saudaraku itu
iri kepadaku. Mereka mulai berbincang-bincang tentang keseharianku.
Mereka
pikir kasih sayang kedua orang tua kami itu hanya kepadaku. Karena itu, tatapan
ketiga saudaraku sangatlah menakutkan aku. Mereka terlalu menampakkan diri
bahwa mereka benci kepadaku. Namun aku tetap berfikir positif.
Keesokan
harinya orang tua kami pun berangkat ke luar kota karena ada kerjaan mendadak. Ketika
orang tua kami pergi. Ketiga saudaraku pun tertawa dengan tatapan yang sangat
sinis. Aku sangat takut akhirnya aku lari ke kamar.
Beberapa
jam kemudian ketiga saudara ku pun memanggil aku dengan suara yang keras,karena
keirian hati ketiga saudaraku Aaku disuruh mengerjakan pekerjaan rumah selama
orang tua kami di luar kota.
Aku
pun menuruti permintaan ketiga saudara ku,karena aku kecapean aku pun ingin
tidur,ternyata ketiga saudara ku tidak mengizinkan aku tidur di kamarku
melaikan aku disuruh tidur di kamar pembantu karena pembantu kami lagi cuti.
Beberapa
hari kemudian, ketiga saudaraku ternyata masih menyimpan ketidakpuasan, mereka
mencoba ingin melukai aku dengan menuangkan minyak di depan kamar pembantu itu.
Ketika aku bangun dan berjalan aku
terpeleset bukannya ketiga saudaraku membantuku melainkan menertawakanku.
"Sungguh
sakit hatiku dibenci oleh saudaraku sendiri."
Aku
capek disakitin oleh ketiga saudaraku. Akupun membuat rencana bahwa aku akan
memvideokan kelakuan mereka. Setelah semuanyaku dapat aku langsung
mengirimkannya ke orang tua kami. Melihat itu orang tua kami pun langsung
pulang.
Orang
tua kami berpura-pura tidak mengetahui kejadian tersebut.
Keesokan
harinya ketiga saudaraku datang menjumpai orang tua kami dengan senangnya
karena mereka ingin meminta uang untuk nongkrong. Orang tuaku marah dan emosi
kepada ketiga saudaraku. Ketiga saudaraku pun takut dan menangis. Aku pun ikut
menangis dan meminta orang tua kami untuk memaafkan ketiga saudaraku. Akhirnya
ketiga saudaraku pun mengakui kesalahannya. Sekarang kami saling meminta maaf
dan selalu bersama-sama.
Bunga
Aprillya Panjaitan, SMPN 1 Talang Muandau


Tidak ada komentar