Iri: Puisi Bunga Aprillya Panjaitan

 


Aku adalah anak terakhir yang mempunyai dua saudara perempuan dan saudara saudara laki-laki, seperti yang kita tau bahwa anak terakhir adalah anak yang manja ya itulah aku. Keseharianku cuma makan, tidur dan bermain. Ketiga saudaraku itu iri kepadaku. Mereka mulai berbincang-bincang tentang keseharianku.

Mereka pikir kasih sayang kedua orang tua kami itu hanya kepadaku. Karena itu, tatapan ketiga saudaraku sangatlah menakutkan aku. Mereka terlalu menampakkan diri bahwa mereka benci kepadaku. Namun aku tetap berfikir positif.

Keesokan harinya orang tua kami pun berangkat ke luar kota karena ada kerjaan mendadak. Ketika orang tua kami pergi. Ketiga saudaraku pun tertawa dengan tatapan yang sangat sinis. Aku sangat takut akhirnya aku lari ke kamar.

Beberapa jam kemudian ketiga saudara ku pun memanggil aku dengan suara yang keras,karena keirian hati ketiga saudaraku Aaku disuruh mengerjakan pekerjaan rumah selama orang tua kami di luar kota.

Aku pun menuruti permintaan ketiga saudara ku,karena aku kecapean aku pun ingin tidur,ternyata ketiga saudara ku tidak mengizinkan aku tidur di kamarku melaikan aku disuruh tidur di kamar pembantu karena pembantu kami lagi cuti.

Beberapa hari kemudian, ketiga saudaraku ternyata masih menyimpan ketidakpuasan, mereka mencoba ingin melukai aku dengan menuangkan minyak di depan kamar pembantu itu. Ketika aku bangun dan  berjalan aku terpeleset bukannya ketiga saudaraku membantuku melainkan menertawakanku.

"Sungguh sakit hatiku dibenci oleh saudaraku sendiri."

Aku capek disakitin oleh ketiga saudaraku. Akupun membuat rencana bahwa aku akan memvideokan kelakuan mereka. Setelah semuanyaku dapat aku langsung mengirimkannya ke orang tua kami. Melihat itu orang tua kami pun langsung pulang.

Orang tua kami berpura-pura tidak mengetahui kejadian tersebut.

Keesokan harinya ketiga saudaraku datang menjumpai orang tua kami dengan senangnya karena mereka ingin meminta uang untuk nongkrong. Orang tuaku marah dan emosi kepada ketiga saudaraku. Ketiga saudaraku pun takut dan menangis. Aku pun ikut menangis dan meminta orang tua kami untuk memaafkan ketiga saudaraku. Akhirnya ketiga saudaraku pun mengakui kesalahannya. Sekarang kami saling meminta maaf dan selalu bersama-sama.

 

Bunga Aprillya Panjaitan, SMPN 1 Talang Muandau

Tidak ada komentar