![]() |
| https://www.pexels.com/ |
4
Elang
Berhati Merpati
Semangat menuangkan karya dengan motivasi kuat dari karya Raja Ali Haji
membuatnya kembali bermimpi bertemu dengan tokoh besar tersebut dalam tidur
malamnya. Samar-samar antara sadar dan tidak sadar terngiang ditelinganya bait
gurindam yang sudah sangat melekat
dipikirannya
…Cahari olehmu
akan sahabat, yang boleh dijadikan obat
Cahari olehmu akan guru, yang boleh tahukan tiap seteru….
Adi, teruskan perjuanganku…
Antara bahagia dan beban berat Adi terbangun sambil memandangi kamarnya
yang penuh dengan tempelan puisi dan gurindam. Untuk lebih menenangkan
pikirannya kembali Adi bertahajud untuk menuangkan segala beban dan amanah
besar yang saat ini sedang menghampirinya. Ketenangan kembali merasuki diri
setelah bermunajat dan segala keluh disampaikan pada Sang Pencipta. Perlahan
ditariknya meja belajarnya dan mengambil sebuah buku berwarna hijau, dengan
segenap kesunyian malam Adi menuliskan sebuah opini
...AKU INGIN MENJADI ELANG
BERHATI MERPATI...
***
. Koran Melayu Pos sesuai namanya memang telah memiliki komitmen untuk
mengangkat budaya dan sastra Melayu sebagai pilar utama peradaban di negeri
ini. Hal ini sejalan dengan visinya : Takkan
Melayu Hilang di Bumi. Setiap edisi terbit selalu menyediakan kolom khusus
untuk penulis-penulis muda untuk menuangkan karya-karyanya. Kolom tersebut
diberi nama ”Pena Melayu”.
Kerja kerasnya mulai membuahkan hasil, Harian Melayu Pos mengumumkan
pemenang lomba penulisan puisi. Puisi karya Adi keluar sebagai puisi terbaik
dan berhak mengisi kolom sastra Melayu Pos selama setahun. Pagi Minggu itu Pak
Guru menyempatkan singgah ke rumah Adi untuk menyampaikan berita gembira itu.
”Adi, selamat atas prestasimu.”
”Alhamdulillah,”Adi membaca pengumuman dengan senyum dan memanggil ayah dan
ibunya akan kedatangan Pak Guru dan berita kemenangannya.
”Ayah bangga atas prestasimu nak.”
”Ibu juga demikian, begitulah seharusnya budak Melayu.”
***
Di kaki
tangga Mesjid Penyengat selesai Magrib…
”Ingat, sebuah kepercayaan besar jangan disia-siakan, tugas menulis untuk
mengisi kolom sastra selama setahun butuh perjuangan dan pengorbanan,” Pak Guru
mengingatkan Adi akan tanggung jawabnya sebagai konsekuensi atas kemenangannya.
”Pak, gimana kalau saya menulis opini untuk saya tujukan kepada Penguasa setempat?
Ada banyak ketidakpuasan yang menggumpal di kepala saya karena ketidakadilan
dan tingkah laku yang tidak mencerminkan sebagai wakil rakyat,” Adi kali ini
meminta dukungan untuk belajar melawan arus.
”Tulislah Di… bahasa tulis biasanya bisa lebih menyentuh daripada bahasa
lisan. Kalau Adi memang berminat bisa bapak pinjamkan buku Samrah al-Muhammah
karya Raja Ali Haji. Di dalamnya Adi dapat belajar bagaimana menulis segala hal
atas ketidakpuasan pada penguasa namun tetap dalam bingkai keilmuan. Datanglah
besok sebelum Magrib ke rumah Bapak,” Pak Guru mengakhiri pembicaraannya karena
panggilan Isya telah berkumandang.
***
Di keheningan malam, disudut kamar, Adi memulai membaca Samarah al-Muhammah.
Inti yang didapatkan dari buku tersebut tentang 7 syarat pemimpin yang baik
yaitu muslim yang teguh memegang agama
Islam, laki-laki yang mukallaf dan merdeka, adil, mempunyai ijtihad yang elok,
baik bicara, pendengaran, dan penglihatan, mempunyai sifat berani, dan rajin
dan berkemauan keras dalam menjalankan pekerjaan kebajikan. Setelah menemukan
inti buku tersebut, Adi menulis dengan membayangkan semangat Raja Ali Haji saat
menulis buku tersebut. Lewat perenungan lebih mendalam tergoreslah sebuah puisi
di buku hariannya.
WAHAI PEMUDA, JADILAH
Wahai Pemuda
Adalah tangguhmu
Bekal menyibakkan
Riak-riak kekosongan
Wahai pemuda
Adalah semangatmu
Sinar yang menerangi
Sudut-sudut kehampaan
Wahai pemuda
Adalah cerdasmu
Cahaya yang memancarkan
Garis-garis ketenangan
Wahai Pemuda, Jadilah …
***
Hari-hari berikutnya Adi disibukkan dengan menulis untuk Melayu Pos. Saat ini keinginan untuk
menulisnya lebih difokuskan atas kegelisahan hatinya untuk menyampaikan opini
untuk penguasa. Beberapa tulisan berkat kontemplasi yang mendalam dihasilkan
beberapa karya. Setelah lewat berbagai pertimbangan akhirnya dipilih satu karya
yang dianggapnya terbaik untuk saat ini yaitu,
PENUNTUN NEGERI
Rumah panggung kini telah hilang tiangnya
Pedang Jenawi kini telah hilang sangkulnya
Tari Joged Lambak kini telah hilang pemainnya
Sampan pusaka kini telah hilang dayungnya
Waktu kian berlari, berlari
Pemimpin pun bergonta-ganti
Roman demi roman juga tak kalah ikut bermunculan
Namun adakah Hang Tuah berjejer di sana?
Hang Tuah nan arif dan berani
Hang Tuah yang rela menjadi tiang dan sangkul yang hilang?
Hang Tuah yang sudi menjadi pemain dan dayung yang hilang?
Hai para penuntun negeriku!
Puluhan bahkan ratusan tahun sudah, kita pernah berjaya
Janganlah itu hanya menjadi kenangan indah semata
Hai para penuntun negeriku!
Buktikan pada semua
Engkau pantas menjadi tiang, sangkul, pemain, dan dayung Negeri Junjungan
Hai para penuntun negeriku!
Jangan Engkau memikirkan perutmu seorang!
Ingat! Perut-perut renta kami ada di tangan perkasamu
Jiwa raga t’lah kami serahkan padamu
Segenap hati kami yakin padamu
Pegang! Peganglah yang kami berikan!
Agar kelak negeri ini lebih tersohor
***
Kegelisahannya sebagai penulis dan dampak dari beragam buku yang dibacanya
menyadarkannya untuk bertanggung jawab menyampaikan kebenaran. Sebagai
kepeduliannya pada masa depan negeri, dangan kemampuannya dan segenap
keberaniaanya rangkaian kata dituangkannya dalam sebuah bentuk protes.
Di sudut
kamar Rumah Panggung, ditemani hempasan riak kecil gelombang, Adi
menulis
surat untuk Penguasa.
Yth.
Penguasa Negeri Melayu
Izinkan anak negeri mengungkapkan diri lewat kata-kata
untuk saling mengingatkan diri. Anak negeri pencinta seni memaparkannya lewat
karya agung Raja Ali Haji.Mari kita simak bersama Gurindam pasal 12 :
Raja mufakat dengan menteri
Seperti kebun berpagarkan duri
Betul hati kepada raja
Tanda jadi sebarang kerja
Kasihkan orang yang berilmu
Tanda rahmat atas dirimu
Hormat akan orang yang pandai
Tanda mengenal kasa dan cindai
Ingatkan dirinya mati
Itulah asal berbuat bakti
Akhirat
itu terlalu nyata
Kepada hati yang tidak buta.
Penguasa Negeri, sudahkah tuan-tuan paham makna syair
tersebut. Hamba pikir tuan sudah sangat paham karena sering menghadiri
majelis-majelis perayaan yang sering membacakan syair tersebut.
Untuk mengingatkan kembali makna tersebut tidak ada
salahnya anak negeri mengulaskembali makna syair tersebut.
Tuan Penguasa, negeri ini bukanlah milik Tuan Penguasa,
tapi negeri ini milik kita semua. Tuan menjadi Penguasa karena siapa? Tuan
dapat membangun dan mewujudkan keinginan dan cita-cita karena siapa?
Anak negeri rindu akan Penuntun Negeri bukan Penguasa
Negeri.
Negeri ini rindu akan Hang Tuah yang bijak. Hang Tuah
yang akan selalu berjuang atas nilai kebenaran dan keadilan.
Negeri ini negeri yang kaya akan ikannya. Tapi kemana
ikan ini telah tuan-tuan bawa lari?
Nelayan-nelayan sudah lelah melaut, tuan... Pernahkah
tuan ikut merasakan perjuangan mencari ikan di malam hari, kadang laut tenang,
namun kadang badai juga mengancam. Tapi sadarkah tuan, kemewahan yang saat ini
tuan-tuan nikmati hasil keringat nelayan?
Mana janji tuan ketika kampanye dulu yang katanya
berpihak pada nelayan dan akan memajukan kesejahteraan nelayan? Mana tuan?
Juga janji tuan kepada tunas-tunas negeri yang akan
memajukan pendidikan anak-anak nelayan?
Janji tuan agar anak nelayan tidak hanya bisa menjala
ikan tapi anak nelayan yang akan memimpin kehebatan dan kekayaan laut.
Tuan, cobalah belajar menjadi seperti catatan kecil
berikut :
SEEKOR
ELANG BERHATI MERPATI
Catatan Kecil untuk Penuntun Negeri
Membandingkan elang dan merpati tentulah tidak adil. Si
Elang yang gagah dan terkesan arogan dibandingkan dengan si merpati yang manis
dan lembut. Namun akan menjadi energi kekuatan dahsyat bila si elang dan si
merpati bersinergi menjadi Elang yang berhati Merpati.
Elang yang gagah akan menghilangkan arogansinya dan
melindungi habitatnya dengan kelembutan merpati.
Di tengah-tengah kita Elang berhati Merpati sulit untuk
ditemukan yang ada Elang-Elang yang siap menerkam dan memangsa Merpati-Merpati.
Merpati yang seharusnya beterbangan bebas menebarkan
ketenangan dan kedamaian, selalu merasa ketakutan dengan ancaman tiba-tiba dari
Si Elang.
Kita hanya berharap ada ahli genetika yang dengan kerja
kerasnya menghasilkan generasi baru Elang yang berhati merpati.
Catatan di atas hanya gambaran kecil tentang Penuntun
Negeri (Elang) yang diidam-idamkan oleh Pengikut Negeri (Merpati).
Penuntun Negeri ... bimbinglah Pengikut Negeri dengan
kegagahanmu, dengan kekuatan ilmumu, namun sadari kalau Pengikut Negeri perlu
santunmu, perlu rangkulanmu, perlu pancaran kepemimpinanmu.
Sekedar mengingatkan hamba lampirkan :
1.
Syair
lengkap Gurindam 12 karya Raja Ali Haji
2.
Kriteria
Pemimpin yang baik menurut Raja Ali Haji
3.
Puisi
Penuntun Negeri
4.
Janji-janji
tuan selama masa kampanye.


Tidak ada komentar