Novel "Gurindam Laut" (3) karya Bambang Kariyawan Ys.

 

https://www.enjoybatam.com/


 3

Festival Raja Ali Haji

 

Silaturahmi untuk menguatkan persaudaraan untuk memperkuat kehidupan sosial. Adi sering melakukan kunjungan ke rumah teman ataupun gurunya. Selesai Sholat Isya, Adi berkunjung ke rumah Pak Guru, rumah panggung yang terletak di sebelah Mesjid Penyengat.

”Assalamuallaikum”

”Waallaikumsalam, masuk Di.” Keramahan dan wibawa Pak Guru tidak saja ditunjukkan di sekolah, di rumahpun hal keramahan itu masih terpancar. Adi menjelaskan maksud kedatangannya untuk minta pendapat tentang puisinya. Pak Guru mengamati karyanya dan berkomentar,

”Bagus Di. Ikutkan saja dalam Lomba Penulisan Puisi yang diadakan Melayu Pos, selain untuk uji kemampuanmu juga mengenalkan dirimu sebagai penyair dari Penyengat, dan yang pasti para pemenang akan mendapat kesempatan mengisi kolom sastra Melayu Pos selama satu tahun. Ini kesempatan emas dan Bapak lihat Adi  juga mampu membaca Gurindam 12 dengan baik, bulan Oktober nanti ada Festival Raja Ali Haji. Bapak harap Adi bisa berpartisipasi. Ingat lomba ini berlevel internasional karena negara jiran juga hadir. Pilih pasal Gurindam yang sesuai dengan karakter suaramu.”

”Baiklah Pak nampaknya saya akan membacakan Pasal 3,” Adi memutuskan mengingat kemampuan lebihnya pada pasal tersebut.

Festival Raja Ali Haji merupakan agenda budaya rutin yang dikelola oleh Dinas Pariwisata Tanjung Pinang dengan menghadirkan berbagai tokoh sastra dan budaya dari Kepulauan Riau, Riau, Malaysia, Singapura, dan Brunei. Agenda ini selalu menjadi perhatian dan prioritas ahli sastra nasional dan internasional mengingat beragamnya acara yang selalu dikemas. Mulai dari seminar, lomba gurindam, lomba berbalas pantun, lomba tari Melayu, temu penulis sastra, kemah budaya.

 ***

Gaung Festival Raja Ali Haji bergema kesemua elemen masyarakat. Partisipasi masyarakat Penyengat selalu antisius setiap menyambut beragam acara yang diadakan. Mereka menyadari warisan budaya Melayu harus diperhatikan dengan menunjukkan kepedulian terhadap aktivitas budaya yang diadakan di Penyengat. Mereka sangat bangga dengan sebutan Penyengat sebagai pusat peradaban Melayu. SMA Penyengat pun selalu berpartisipasi dalam setiap event Festival Raja Ali Haji. Setiap tahunnya anak-anak SMA Penyengat selalu dipercaya untuk mendesain dan merancang bentuk souvenir yang akan diberikan kepada peserta. Walaupun nampaknya tugas kecil tapi mereka bangga dengan kepercayaan tersebut.

Kepala Sekolah memanggil Adi dan Rizky untuk membuat rekaman tentang Raja Ali Haji sebagai souvenir peserta Festival Raja Ali Haji.

”Bapak beri kesempatan pada kalian untuk membuat rekaman tentang Raja Ali Haji untuk souvenir peserta Festival. Silahkan kalian susun rencananya. Ini kepercayaan dari panitia pada sekolah kita. Kerjakan sebaik mungkin, konsultasi dengan guru sejarah dan orang-orang tua di Penyengat. Bapak harap souvenir kali ini beda dengan tahun-tahun sebelumnya.”

”Kami usahakan Pak,”Adi dan Rizky menyetujui kepercayaan itu.

Hari-hari berikutnya Adi dan Rizky disibukkan dengan mengumpulkan ide dan data untuk bahan rekaman. Konsultasi dengan guru sejarah, tokoh masyarakat, kajian sumber di Balai Maklumat. Bermula dari Pelabuhan Penyengat Indera Sakti,  Mesjid Pulau Penyengat, Kompleks Makam Engku Puteri Hamidah, Kompleks Makam Raja Ja’far, Kompleks Makam Raja Abdul Rahman Marhum Kampung Bulang, Istana Kantor, Gedung Tengku Bilik, Makam Raja Haji Fisabilillah, Gedung Mesiu, Balai Adat, dan sudut-sudut jejak sejarah yang pernah terjadi di Penyengat dijadikan prioritas untuk ditampilkan dalam skenario yang nantinya akan dituangkan dalam kepingan vcd. Selain itu tidak kalah pentingnya adalah menyiapkan pembaca Gurindam 12.

***

Kerja keras yang menuntut keseriusan dan detil rencana yang matang disiapkan dan dikerjakan dengan sepenuh hati. Rancangan yang matang dituangkan dalam rencana kerja dan sebelumnya telah melakukan survey dan wawancara terhadap berbagai tokoh yang dapat dijadikan sumber. Langkah-langkah serius menyiapkan rencana dilakukan dengan mantap berkat pengalaman dalam berbagai organisasi yang mereka ikuti.

Adi dan Rizky menghadap Kepala Sekolah menyampaikan hasil kerja rencana pembuatan souvenir untuk Festival Raja Ali Haji.

Pak, kami sudah susun proposal pembuatan souvenir untuk Festival Raja Ali Haji. Rencananya kami membuat vcd tentang Raja Ali Haji dan pembacaan Gurindam 12. Kami menambahkannya dengan rekaman kaset berisi syair-syair karya teman-teman SMA dan dalam hal ini pihak RRI Tanjung Pinang telah menyediakan fasilitas untuk rekaman dan penggandaan kasetnya,”Adi dan Rizky saling melengkapi pemaparan untuk meyakinkan Kepala Sekolah.

”Bapak senang dengan hasil kerja kalian. Nanti akan Bapak sampaikan pada panitia festival. Untuk sementara siapkan segala sesuatunya dan bila disetujui kita sudah tidak memulai dari nol lagi,” tegas Kepala Sekolah yang dilanjutkan penjelasan lebih lanjut strategi menyiapkan souvenir tersebut.

***

Festival Raja Ali Haji digelar setiap bulan Oktober bertepatan Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia. Spanduk, baliho, umbul-umbul dan hiasan-hiasan dengan dominasi warna hijau, kuning, dan merah dipasang sepanjang pelabuhan sampai Balai Adat menambah semarak perayaan festival. Malam Pembukaan diadakan di halaman Balai Adat yang telah diubah menjadi arena festival yang megah. Berbagai nuansa Melayu begitu dominan menghiasi aksesoris panggung dan tiap sudut tempat acara. Peserta dan undangan berbaju kurung dan Teluk Belanga. Tanjak dan songket menjadi pemanis penampilan. Musik gazal bergantian irama mendayu dan menghentak.

Kalau nakhoda, kalau nakhoda kuranglah paham, hai kuranglah paham

Alamatlah kapal, alamatlah kapal akan tenggelam

 

Syair Lancang Kuning begitu menghentak, seiring menyambut wajah-wajah semangat peserta. Acarapun dimulai dengan tampilnya pembawa acara (MC) terkenal dari RRI Tanjung Pinang.

”Penyengat Kota Budaya, Budaya Bangsa Dunia Melayu,

Salam ucap pembuka kata, Assalamuallaikum Warohmatullahiwabarakatuh.

 

Hadirin sekalian, kita buka acara Festival Raja Ali Haji dengan Tari Persembahan.”

            Tujuh penari berpakaian Melayu dengan warna kuning mengkilap mengambil gerak Lenggang Patah Sembilan memainkan tarian persembahan.Kerapian langkah memiliki filosofi keseragaman gerak dan penghormatan pada tetamu terpancar dari tiap gerak penari dan makna tarian.

”Hadirin berbahagia, kami akan memutarkan karya anak-anak Penyengat tentang Raja Ali Haji dan Gurindam 12 nya sebagai souvenir untuk hadirin sekalian. Rekaman dokumenter ini dibuat oleh siswa SMA Penyengat. Semoga hadirin berkenan. Selamat menyaksikan,” Ketua Panitia mempersilahkan hadirin untuk menyaksikan tayangan dari infocus sambil menerangkan setiap detil yang ditampilkan.

Rekaman dokumenter diputar, diawali dengan setting Pulau Penyengat, makam Raja Ali Haji, pemaparan karya-karya Raja Ali Haji, pembacaan Gurindam 12, dan lain-lain. Semua mata tertuju dengan takjum memandang sebuah karya artistik. Tidak hanya sebuah dokumenter, namun vcd tersebut digarap dengan sangaat indah, apalagi dengan musik latar bernuansa lagu Segantang Lada, Pulau Bintan, Raja Haji Fisabilillah, dan Hang Tuah.

            Perlombaan dimulai dengan pembacaan syair Gurindam 12. MC dengan sikap profesionalnya menyusun kata lewat pantun.

Mak Inang dari Pulau Kampai, menyusun langkah dengan perlahan, acara akan kita mulai, undian satu kami persilahkan.

 

Peserta nomor 1 memulai lomba dengan membacakan pasal 5.

Jika hendak mengenal orang berbangsa

             Lihat kepada budi dan bahasa

             Jika hendak mengenal orang yang berbahagia

             Sangat memeliharakan yang sia-sia

             Jika hendak mengenal orang mulia

             Lihatlah kepada kelakuan dia

             Jika hendak mengenal orang yang berilmu

             Bertanya dan belajar tiadalah jemu

             Jika hendak mengenal orang yang berakal

             Di dalam dunia mengambil bekal

             Jika hendak mengenal orang yang baik perangai

             Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

 

Pohon selasih rapi tertata, menjulang tinggi si pohon manggis, setelah undian satu tentunya dua, kami silahkan tampil di hadapan majelis,”

 

 MC kembali berpantun meminta undian nomor 2 untuk tampil. Ternyata peserta tuan rumah, yaitu Adi. Tepuk tangan bergemuruh menyambut tampilnya Adi ke panggung dengan desain hiasan kaligrafi bertuliskan semua pasal Gurindam 12.

             Apabila terpelihara mata

             Sedikitlah cita-cita

             Apabila terpelihara kuping

             Khabar yang jahat tiadalah damping

             Apabila terpelihara lidah

             Niscaya dapat daripadanya faedah

             Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan

             Daripada segala berat dan ringan

             Apabila perut terlalu penuh

             Keluarlah fi’il yang tiada senonoh

             Anggota tengah hendaklah ingat

             Di situlah banyak orang yang hilang semangat

             Hendaklah peliharakan kaki

             Daripada berjalan yang membawa rugi

 

Selama tiga hari festival berlangsung dengan semarak, beragam lomba dilangsungkan dengan menghadirkan peserta dari berbagai daerah dan negeri Jiran. Pada Malam Penutupan, setelah melalui acara sambutan, kini tiba pembacaan pengumuman untuk bermacam acara lomba. Satu persatu hasil lomba diumumkan. Terpancar wajah bahagia bagi pemenang. Ajang festival bukan semata-mata memperebutkan tropi. Namun yang terpenting acara ini sebagai ajang memperkokoh dan memperkaya warisan budaya Melayu.

”Untuk juara 1 dalam kategori baca Gurindam dimenangkan peserta dengan nomor undian 2,” Dewan Juri mempersilahkan undian nomor 2 untuk tampil, ternyata Adi. Gemuruh tepuk hadirin membahana di arena festival saat tropi diangkat olehnya. Senyuman tertebar sebagai wujud berbagi kebahagiaan.

***

Tropi kemenangan yang diperolehnya dipajang di sudut ruang tamu. Tropi yang berbentuk buku terbuka dan di atasnya bertulis bait-bait Gurindam 12. Ada aura yang memintanya untuk datang ke makam Raja Ali Haji. Langkah-langkah kaki gembira dan semangat membawanya ke Komplek Makam Engku Puteri Hamidah. Setibanya di komplek itu, Adi memandang makam Raja Ali Haji dan sambil mengamati baris-baris Gurindam 12 di dinding rumah pemakaman.

”Tuanku Raja Ali Haji, kemenangan ini hamba persembahkan untukmu.” Ziarah kali ini Adi berusaha menuangkannya lintasan-lintas pikiran dan lintasan khayalannya dalam sebuah bentuk cerita pendek tentang perjuangan seorang anak nelayan yang berusaha belajar menjadi penulis, baris demi baris kalimat ia goreskan, dan akhirnya lewat pemikiran yang dalam jadilah sebuah konsep cerpen yang berjudul,

...DEBUR OMBAK DI UJUNG PENA...

Tidak ada komentar