![]() |
| https://www.sumutinsider.com/ |
2
Mimpi,
Melayu Pos, dan Karya
Di sudut kamar Adi, kamar berukuran 3 x 3 m penuh dengan buku, terlihat
buku sastra, agama, novel, komik, majalah, dan pelajaran SMA serta tempelan
puisi-puisi yang pernah ditulisnya. Ada
puisi-puisi karya pujangga besar seperti
Chairil Anwar, Taufiq Ismail, Sutarji Chalzoum Bahri, penyair-penyair
lokal, dan yang paling mencolok adalah tempelan Gurindam 12 Raja Ali Haji yang
hampir memenuhi separuh dinding kamarnya.
Sebuah
kebiasaannya sebelum tidur selalu mencermati dengan mendalam setiap baris huruf
dari Gurindam, kali ini sebelum mata terpejam menuju perjalanan malam sekilas
mata langsung tertuju pada pasal kesepuluh,
Dengan bapa jangan durhaka
Supaya Allah tiada murka
Dengan ibu hendaklah hormat,
Supaya badan dapat selamat
Dengan anak janganlah lalai
Supaya boleh naik ke tengah balai
Dengan isteri dan gundik janganlah alpa
Supaya kemaluan jangan menerpa
Dengan kawan hendaklah adil
Supaya tangannya jadi kafil.
Syair-syair Gurindam itu selalu mengendap dalam pikirannya, sehingga
membuat kata-katanya seolah-olah sudah akrab dan mengalir bila bicara tentang
Gurindam tersebut. Kepiawaian mendalami gurindam menyebabkan dirinya selalu
dipercaya untuk mewakili sekolah dalam acara-acara lomba bersyair gurindam.
Berbagai tropi penghargaan pernah diraihnya, mulai tingkat sekolah sampai
tingkat provinsi. Perlahan mata lelah terpejam untuk melakukan pengembaraan
paling indah dalam diri manusia lewat tidur dan mimpi indah.
Berbagai teori yang berbicara tentang terjadinya mimpi pada manusia ada
benarnya, yaitu mimpi dapat terjadi karena
endapan pikiran manusia disaat sadar. Dengan motivasi yang kuat untuk menulis
dan mengkaji karya Raja Ali Haji sampai
Adi bermimpi ketemu penyair besar tersebut, lamat-lamat terdengar suara-suara,
”Cahari olehmu akan sahabat
yang boleh dijadikan obat,
Cahari
olehmu akan guru yang boleh tahukan tiap seteru.
Adi, teruskan perjuanganku, carilah kemana pergi nilai warisan yang telah kupersembahkan
untuk negeri ini, kemana Gurindam 12 ku?”
Adi pun terbangun dan tersentak, duduk sejenak sambil merenungkan dan
mencari hikmah dibalik mimpinya. Jam dinding baru menunjukkan pukul 02.10. Rasa gelisah membawanya untuk berwudhu dan melanjutkan
dengan sholat tahajud. Ketika rasa tenang menjalar ke dalam dirinya, Adi menuju
meja belajar, membuka buku harian dan menuliskan,
... GURINDAM, HARI INI GAUNGMU AKAN MULAI KUTABUH...
TUHAN AJARI AKU …
Tuhan Ajari Aku
Makna waktu
Agar aku terhindar dari kesia-siaan
Tuhan Ajari Aku
Makna sunyi
Agar aku dapat hidup dalam kedamaian
Tuhan Ajari Aku
Makna syukur
Agar aku jadi hamba yang tawadhu
Tuhan Ajari Aku
***
Berbagi masalah akan dapat meringankan beban diri, nampaknya telah menjadi
kebiasaan Adi bila masalah menghampiri dirinya. Di halaman sekolah sebelum
pelajaran pagi dimulai, Adi bercerita mimpi tersebut pada Pak Guru yang sedang
menuju ke kantor Majelis Guru,
”Pak, dalam mimpisaya, Raja Ali Haji meminta saya meneruskan perjuangannya,
dan beliau juga bertanya telah pergi kemana warisannya, Gurindam 12,” cerita
Adi dengan semangat sambil menunjukkan puisi yang ditulisnya semalam.
”Berjuanglah Di, berbuatlah sesuatu yang dapat membuat Raja Ali Haji
senang. Bapak pikir itu satu peringatan untuk generasi sekarang,” Pak Guru
memberi tanggapan dan komentar tentang masalah pudarnya nilai-nilai budaya
Melayu dalam kehidupan generasi sekarang.
”Pak, ini karya saya, tolong dikomentari,” pinta Adi.
Pak Guru
mengamati puisi Tuhan Ajari Aku dan Kemana Gurindamku sambil berjalan
beriringan menelusuri trotoar sekolah yang tepinya ditanami bunga-bunga
matahari yang bersinar seolah ingin menunjukkan semangat hidupnya hari ini.
”Indah sekali Di. Nti akan Bapak minta teman Bapak di Harian Melayu Pos
untuk memuatnya,” janji Pak Guru.
***
Harian Melayu Pos bertempat di Jalan Merdeka Tanjung Pinang, jalan protokol
utama yang penuh dengan ruko (rumah toko) dengan beragam dagangannya. Letak yang strategis berada diantara
pusat-pusat perkantoran dan pusat-pusat keramaian masyarakat Tanjung Pinang.
Kantor Harian Melayu Pos mengambil arsitektur
gaya Rumah Adat Melayu, Selaso Jatuh Kembar, bagian dalam kantor penuh dengan laptop, rak-rak koran yang telah
terbit, dan beragam data statistik perkembangan Harian. Pak Guru bertanya pada
petugas yang ada dan beliau menunjukkan yang dicari sedang ada di lantai II.
Sambil menuju ke lantai II terlihat figura yang tertata rapi berupa berbagai
penghargaan yang telah diterima Harian Melayu Pos, salah satunya yang terbaca
sebagai Koran Terbaik dalam penggunaan Bahasa Indonesia.
”Ervan...,”
sapa Pak Guru setelah sempat bertanya pada salah satu pegawai yang sedang asyik
mengedit naskah di laptopnya.
”Pak Guru...ada apa Pak?” Ervan menyambut dengan keramahannya, bukan saja
karena keramahan seorang tuan rumah pada tamunya tapi lebih dari itu karena
Ervan dulunya pernah menjadi murid Pak Guru.
”Mau minta tolong, kalau layak tolong dimuat karya murid-murid bapak di
kolom sastra harian ini,” pinta Pak Guru dengan menunjukkan karya-karya
muridnya, satu diantaranya karya Adi berupa Catatan Kecil untuk Melayu Pos yang
berjudul Menjadi Gelombang.
”Bisa... nanti coba kami lihat dulu Pak,” Ervan pun mengamati karya Adi.
MENJADI GELOMBANG !
Catatan kecil idealisme “Melayu Pos”
Gelombang muncul karena ada kekuatan yang terkumpul
sehingga mampu memimpin ketinggian dari biasanya. Mampu menghempaskan
kekuatannya. Kalau kita mau belajar dari filosofi gelombang yang muncul
sekali-sekali namun mampu membuat perubahan mendasar perlu kita jadikan sebagai
bahan renungan.
Dalam catatan peradaban, kemunculan perubahan besar
karena mereka mampu mengumpulkan berbagai energi kekuatan untuk siap muncul
dengan menghempaskan energi tersebut dan menghempaskan kekuatan untuk melakukan
perubahan.
Siapapun yang memimpin perubahan tersebut, yang jelas
mereka punya tekad yang kuat untuk menjadi dan membuat gelombang perubahan.
Sekecil apapun riak gelombang asal selalu konsisten dan kesungguhan hati untuk
tetap selalu berusaha menjadi gelombang, cepat atau lambat gelombang perubahan
pasti akan terjadi. Kadang ketidaksabaranlah yang menyebabkan gelombang yang
ada hanya gelombang biasa-biasa saja, gelombang tanpa hempasan energi kekuatan.
Melayu Pos diharapkan menjadi sebuah kumpulan insan-insan yang memiliki energi
perubahan bagi yang ingin terus menjadi gelombang! Menghempaskan hal-hal yang
sudah sepantasnya dihempaskan. Memunculkan sesuatu yang seharusnya untuk
dimunculkan. Itulah idealisme!
”Oke, bagus Pak. Bisa kami pertimbangkan untuk dimuat di
kolom Catatan Kecil,” respon Ervan. Perbincangan berikutnya mengambil beberapa
kesepakatan untuk proses pemuatan karya tersebut.
***
Lewat revisi beberapa kata dari Bang Ervan, akhirnya karya Adi dan
anak-anak SMA Penyengat dimuat di Harian Melayu Pos edisi Minggu yang selalu
menghadirkan karya-karya sastra dan kolom kreatifitas remaja. Memang benar,
efek dari media massa dapat membuat opini dan mengenalkan seorang secara luas
apabila karya-karya dimuat di media massa. Demikian pula halnya Adi. Respon positif
berdatangan. Hari-hari berikutnya menghabiskan waktu dengan menulis puisi dan
tulisan sastra.
”Adi, puisimu mendapat respon positif dari pembaca. Pihak Melayu Pos minta
Adi menulis lagi. Buatlah karya-karya yang bisa membuat orang berpikir dan
merasakan manfaat dari karyamu, coba belajar juga membuat essay atau opini” Pak
Guru menyemangati.
”Terima kasih Pak,” Adi merasakan dorongan kuat dari dalam diri dan luar
dirinya membuat segala hambatan menjadi tantangan. Keterbatasan waktu tidak
menjadi alasan baginya untuk membuat tulisan-tulisan yang baik mengingat
tanggung jawab dirinya sebagai anak, pengurus organisasi sekolah, remaja mesjid
dan lain-lain. Proses menulis kreatif dapat dilakukan dengan membagi waktu
sebaik-baiknya dengan otodidak lewat buku dan mencari berbagai artikel di dunia
maya internet.
***
Bakat menulis akan semakin terasa bila ada tempat penyalurannya. SMA
Penyengat memiliki media Mading ”Rusyidiah Club” untuk menghimpun karya-karya
tulis siswa. Adi termasuk salah satu pengurusnya sebagai tim editor. Nama
Rusyidiah Club diambil dari organisasi penulis dan percetakan yang pernah jaya
di masa Kerajaan Melayu Penyengat. Edisi mading kali ini bertema ”Chairil
Anwar”. Tulisan utamanya berjudul,
…TAPI KERJA BELUM SELESAI, BELUM APA-APA…
(Krawang Bekasi, Chairil Anwar)
Rememori Untuk Jiwa Muda yang sudah terlupa dengan Sumpah
Pemuda
Satu Nusa,
Satu Bangsa, Satu Bahasa Kita...
Sumpah yang
digaungkan pemuda 28 Oktober 1928,
semakin tua usianya. Semakin tua usianya apakah bertambah mendalam makna
yang menghunjam di dada pemuda bangsa ini? Atau Sumpah tersebut sudah
terlupakan oleh perputaran waktu karena sudah merasa tidak perlu lagi yang
berbau romantisme sejarah dengan alasan dunia sekarangkan dunia global?
Benarkah?
Globalisasi
memang suatu yang tidak dapat dihindari, tapi kekuatan untuk berpijak agar
tidak terombang-ambing sangat dibutuhkan. Nasionalisme atau kecintaan pada
negeri ini adalah muara agar kaki kita berpijak tidak mudah goyah dengan
hempasan angin perubahan zaman.
Sumpah
tersebut diikrarkan dengan segenap dan kesungguhan hati untuk melihat bangsa
ini menjadi bangsa yang satu dengan latar belakang perbedaan.
The founding fathers hanya bisa
berteriak : ...Kami hanya tulang-tulang
berserakan, tapi kaulah yang sekarang menentukan tulang-tulang berserakan itu...
Sudahkah
kita meneruskan dan menentukan semangat si pemilik tulang-tulang berserakan
tersebut. Bukankah kita pernah berjanji:...Menjaga
Bung Karno, Menjaga Bung Hatta ...
Sudahkah
kita menjaga amanah mereka? Mereka yang telah mengedepankan dirinya untuk
kepentingan kita sebagai masa depan bangsanya.
Dihadapan
pemuda saat ini penuh dengan rayuan harta, dan rayuan kekuasaan. Bisakah kita
menjadi AKU, yang dimaksud dengan Chairil Anwar: ... Aku, kalau sampai waktuku, kumau tak seorang kan merayu, tidak juga kau
...
Kita sudah
sangat paham teori-teori dan jargon yang mengedepankan kesatuan. Ada
pluralistik, heterogenitas, differensiasi, Bhinneka Tunggal Ika dan banyak lagi
yang intinya menjunjung indahnya perbedaan. Tapi ketika dihadapan pada kondisi
nyata, hilang sudah esensi menghargai perbedaan, justeru yang muncul adalah
egoisitas dan primordialitas. Apalagi ketika perbedaan dijadikan alasan
kekuasaan untuk meraup keuntungan dengan alasan primordialitas budaya dan
etnis.
Bukankah
keseimbangan sosial justeru akan terjadi bila perbedaan yang ada terpelihara
dengan prinsip saling melengkapi?
Pernahkah
kita membayangkan negeri ini seperti jajaran Rumah-Rumah Adat di Taman Mini
Indonesia Indah? Terpelihara perbedaannya, keunikannya, dan persaudaraannya.
Kalaulah
Bapak Bangsa dapat bangkit kembali, beliau pasti berkata ”...Kami telah coba apa yang kami bisa, tapi
kerja belum selesai, belum apa-apa...” bahkan mereka dengan lantang
mengingatkan ”...Biar peluru menembus
kulitku,aku akan tetap meradang, menerjang, dan aku mau hidup seribu tahun lagi
...”
Tidak
malukah kita pemuda? Bapak bangsa hanya minta pada kita untuk bisa menentukan
arti tulang-tulang berserakan yang mereka miliki.
Mari
pemuda...kita bangkit bersama, kita bersumpah kembali untuk menjunjung
INDONESIA SATU!
Tulisan yang begitu berisi ternyata tidak diimbangi dengan sikap sportif
dalam menghargai karya orang lain, salah satunya sikap mencoret-coret karya di
Mading sering dilakukan siswa yang masih ada warisan vandalisme.
”Adi, tulisanmu di mading dicoret-coret!” Rizky setengah berteriak sambil
berlari-lari menelusuri gang sekolah.
”Biarlah, anggap saja tantangan bagiku untuk berkarya lebih baik. Mungkin
saja dia berbuat seperti itu karena menganggap karyaku belum bermutu,” Adi
berusaha tenang dan tidak terpancing emosinya.
”Tapi ini bukan yang pertama kali kan Di?” Rizky berusaha mengingatkan
kembali kejadian serupa yang sebelumnya.
”Sudahlah, tidak usah diperpanjang … Ingat tidak pesan Raja Ali Haji dalam
Gurindam 12 nya …Pekerjaan marah jangan
dibela, nanti hilang akal di kepala…,” Adi balik mengingatkan temannya akan
syair Gurindam 12.
***
Potensi besar dan kesempatan yang terbuka lebar membuat motivasi untuk
menulis dan mengukur kemampuan menulis dengan berpartisipasi dalam berbagai
lomba kepenulisan. Sebuah prinsip bagi Adi yang terpenting adalah berkarya,
hasil dalam sebuah lomba hanya sebuah parameter. Informasi memang harus
direbut, dengan kerja keras informasi akan hadir di tengah kita. Media massa,
internet, dan relasi merupakan sarana informasi tersebut. Pak Guru bagi Adi
adalah salah satu sumber terpenting untuk mendapatkan informasi. Seperti kali
ini,
“Adi, ada lomba puisi tingkat pelajar di Tanjung Pinang, penyelenggaranya
Melayu Pos. Berminat?” Pak Guru menunjukkan Koran Melayu Pos edisi hari Minggu.
”Mau Pak,”Adi dengan antusias
membaca detil kriteria lomba tersebut.
***
Inspirasi dapat dimunculkan dimana saja. Balai Maklumat memang tempatnya
para pecinta sastra dan budaya Melayu menggali dan menemukan inspirasi.
Ketersediaan sumber berupa naskah kuno, buku-buku bertemakan budaya Melayu,
kumpulan skripsi berlatar belakang Melayu, audiovisual tentang film sejarah
Melayu dan dokumenter tentang perjalanan sejarah dan aktivitas budaya Melayu,
dengan rapi dan teraturnya dikelola oleh petugas dengan profesional. Adi
termasuk pengunjung setia yang selalu menjadikan tempat itu untuk menggali
informasi.
”Ada yang bisa kami bantu dik?” petugas Balai Maklumat yang dikenalnya
sebagai Bu Nana menawarkan jasa untuk memudahkan pelanggannya.
”Saya sedang mencari referensi untuk menulis puisi yang bertemakan
Melayu,”Adi menjelaskan kriteria batasan Melayu yang diinginkannya. Setelah Bu
Nana memintanya untuk mencari di rak sastra Melayu, Adi menemukan sebuah buku
yang berjudul ”Hang Tuah versus Hang Jebat”.
”Bu, saya ingin pinjam buku ini.”
”Boleh ... ooh tentang Hang Tuah dan Jebat. Sebentar saya pinjamkan sekalian
vcd filmnya, semoga bisa memudahkanmu,” petugas Balai menuju rak vcd film
diambilnya sebuah judul ”Amuk Hang Jebat”.
”Terima kasih Bu,” Adi memasukkan buku dan vcd film ke dalam tasnya.
***
Bukit Meriam dengan panorama alamnya yang menakjubkan menghampar dihadapannya
pulau-pulau kecil menghijau dan terlihat kapal-kapal bergerak dengan teratur.
Diantara meriam-meriam yang menjadi saksi sejarah perjuangan rakyat Penyengat
melawan Kompeni Belanda. Di satu sudut Bukit Meriam, diantara hembusan semilir
angin, lembar demi lembar kisah Hang Tuah dan Hang Jebat dipelajari dan
dipahami lebih mendalam.
Rasa keingintahuannya diperkuat dengan memutar film tentang Amuk Hang
Jebat. Keasyikan menelusuri masa lalu seolah membawanya turut hadir dalam
perang dilematis antara Hang Jebat dan Hang Tuah.
”Film apa Di?” ayahnya tiba-tiba
muncul, terlihat wajah lelahnya setelah seharian menjala ikan di laut.
”Amuk Hang Jebat, Yah,” Adi mengajak ayahnya untuk nonton bersama.
Pengalaman ayah membawa diskusi berharga bagi Adi untuk memintanya
memperhatikan saat adegan Hang Jebat terpaksa melakukan tindakan amuk. Adi
mulai berpikir untuk menulis puisi tentang Hang Jebat yang dianggap salah dalam
Sejarah Melayu. Lewat perenungan mendalam
lahirlah karya,
PLEDOI
UNTUKMU HANG JEBAT
Jebat…
Kami tahu amukmu karena apa
Kami tahu dendammu karena apa
Kami tahu marahmu karena apa
Jebat…
Amukmu ingin membongkar tirani kekuasaan
Dendammu ingin menghancurkan ketidakadilan
Marahmu ingin melabrak simuka dua
Tuah…
Kami tahu sayangmu pada Jebat
Kami tahu kagummu pada Jebat
Kami tahu banggamu pada Jebat
Tapi…
Kami juga tahu
Kalau Tuah dilema membela Jebat
Jebat…
kini
Anak negeri akan membela kebenaran
Anak negeri akan menegakkan keadilan
Anak negeri akan meluruskan sejarah
Jebat…
Tenanglah
di alammu…
Pledoi anak negeri akan selalu ada untukmu
Sampai sejarah berpihak padamu
Inilah janji anak negeri padamu Jebat


Tidak ada komentar