Mengenal Ibnu Khaldun, Bapak Sosiologi dan Filsafat Sejarah

 

Ibnu Khaldun. middleeastmonitor.com@2021 Merdeka.com

Ibnu Khaldun merupakan tokoh penting dalam peradaban Islam dari abad ke-14. Dalam dunia modern, dia bergelar macam-macam. Mulai dari Bapak Sosiologi, peletak dasar Filsafat Sejarah, perintis Ilmu Ekonomi, hingga penggagas teori politik.

Pemilik nama lengkap Abdul Rahman bin Khaldun itu lahir di Tunis pada 1332. Dia menulis banyak karya. Di antaranya adalah Kitab al-Ibar yang terdiri atas tujuh jilid. Jilid pertamanya bertajuk Muqaddimah yang di Dunia Barat dinamakan Prolegomena. Berikutnya, Ta’rif yakni semacam autobiografi Ibnu Khaldun. Nama Ibnu Khaldun mencuat secara global pada abad ke-17. Hal ini agaknya wajar. Sebab, semasa hidup Ibnu Khaldun, peradaban Islam sedang meredup, baik di Timur maupun Barat.

Sementara, orang-orang Eropa baru mengetahui karya-karyanya sejak abad ke-19. Para ilmuwan sosial Eropa begitu terkesan dengan pemikiran Ibnu Khaldun mengenai sosiologi yang mendahului zamannya, khususnya dalam Muqaddimah. Sebagai informasi, istilah sosiologi itu sendiri baru muncul pada abad ke-19 ketika digagas filsuf Perancis, Auguste Comte.

Sejarawan dan filsuf sosial Islam Tunisia ini sudah merumuskan suatu model tentang suku bangsa nomaden yang keras dan masyarakat-masyarakat halus yang bertipe menetap dalam suatu hubungan yang kontras. Karya Ibn Khaldun tersebut dituangkan dalam bukunya yang berjudul Al-Muqaddimah tentang sejarah dunia dan sosial budaya yang dipandang sebagai karya besar di bidang tersebut.

Dari kajiannya tentang watak masyarakat manusia, Khaldun menyimpulkan bahwa kehidupan nomaden lebih dahulu ada dibanding kehidupan kota dan masing-masing kehidupan ini memiliki karakteristik tersendiri. Menurut pengamatannya, politik tidak akan timbul kecuali dengan penaklukan, dan penaklukan tidak akan terealisasi kecuali dengan solidaritas. Lebih jauh lagi, ia mengemukakan bahwa kelompok yang terkalahkan selalu senang mengekor ke kelompok yang menang, baik dalam selogan, pakaian, kendaraan, dan tradisi. Selain itu, salah satu watak seorang raja adalah sikapnya yang menggemari kemewahan, kesenangan, dan kedamaian. Dan apabila hal-hal ini semuanya mewarnai sebuah negara maka negara itu akan masuk dalam masa senja. Dengan demikian kebudayaan itu adalah tujuan masyarakat manusia dan akhir usia senja.

Pendapat Khaldun tentang watak-watak masyarakat manusia dijadikannya sebagai landasan konsepsinya bahwa kebudayaan dalam berbagai bangsa berkembang melalui empat fase, yaitu fase primitif atau nomaden, fase urbanisasi, fase kemewahan, dan fase kemunduran yang mengantarkan kehancuran. Kemudian keempat perkembangan ini oleh Ibnu Khaldun sering disebut dengan fase pembangunan, pemberi kabar gembira, penurut, dan penghancur.

Model masyarakat yang Khaldun gambarkan mengenai tipe-tipe sosial dan perubahan sosial diwarnai oleh warisan khusus dari pengalaman dunia gurun pasir di Jazirah Arab. Tujuannya tidak hanya untuk memberikan suatu derskripsi historis mengenai masyarakat-masyarakat Islam Arab, tetapi untuk mengembangkan prinsip-prinsip umum atau hukum-hukum yang mengatur dinamika masyarakat dan proses perubahan sosial secara keseluruhan.

Semangat atau sikap ilmiahnya dalam menganalisis sosial budaya, pada umumnya mendekati bentuk penelitian ilmiah modern, dan isinya secara substantif dapat disejajarkan dengan teori sosial modern. Namun demikian, karya Khaldun sudah banyak diabaikan oleh para ahli teori sosial di Eropa dan Amerika, mungkin antara lain karena dunia Arab saat itu mulai mundur, sedangkan Eropa dan Amerika semakin mendominasi.

Keistimewaan Muqaddimah

Muqaddimah merupakan karya yang melejitkan nama Ibnu Khaldun dalam peta peradaban Islam. Buku ini dianggap sebagai uraian yang paling sistematis tentang seluk-beluk ilmu sosial. Lantaran itu, pembacanya dapat memahami secara mendalam situasi dunia Muslim dalam abad pertengahan.

Filsuf dan sejarawan Inggris, Arnold J Toynbee, mengagumi Muqaddimah sebagai karya paling luar biasa yang pernah ditulis dalam era kapanpun dan di manapun. Baginya, Ibnu Khaldun merupakan orang pertama yang memperlakukan sejarah sebagai sebuah ilmu, alih-alih narasi subjektif.

Adapun menurut Charles Issawi, Ibnu Khaldun adalah tokoh terawal yang menemukan dasar-dasar sosiologi. Khususnya, pemikiran bahwa fenomena sosial mematuhi suatu kaidah tertentu yang mesti dicari sosiolog.

Caranya dengan mengumpulkan dan menghubungkan fakta-fakta dalam masyarakat yang diteliti. Kaidah ini bekerja secara struktural, sehingga tidak dapat diubah lantaran tindakan individu. Segenap gagasan Ibnu Khaldun bermuara pada kesimpulan, fenomena masyarakat dapat diteliti secara sains.

Ibnu Khaldun juga diakui sebagai pelopor studi filsafat sejarah modern. Sarjana Amerika Serikat, Philip K Hitti menegaskan kontribusi besar Ibnu Khaldun dengan pujian panjang-lebar: “Belum pernah ada sebelum dia, baik itu Arab apalagi Eropa, yang memiliki pandangan komprehensif dan filosofis mengenai sejarah. Ibnu Khaldun merupakan filsuf-sejarah yang paling brilian yang pernah dihasilkan Dunia Islam. Dia termasuk yang paling besar sepanjang sejarah.”

Singkatnya, kontribusi besar Ibnu Khaldun ialah merasionalkan ilmu sejarah serta pada penyusunan metode-metode dan tujuan kajian tersebut.

Ibnu Khaldun merupakan keturunan Arab Hadramaut dari Yaman. Kakek dan orang tuanya termasuk pelarian politik dari Andalusia yang kemudian menetap di Tunis. Mereka mendapatkan kedudukan terhormat di tengah masyarakat Afrika Utara dan Andalusia.

 Kata Kunci

    Pengertian Sosiologi menurut Ibnu Khaldun, ilmu pengetahuan yang menjelaskan tentang solidaritas sosial melalui konsep ashabiyah, yakni sebuah konsep yang menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya memiliki kedekatan dan saling membutuhkan satu dengan yang lainnya.

 Sumber: https://www.republika.co.id/berita/pnjfzs458/mengenal-ibnu-khaldun-bapak-sosiologi-dan-filsafat-sejarah

Tidak ada komentar