![]() |
| Foto: Koleksi Julina |
Artikel Afridezi, M.Pd.
Dr. Bambang Kariyawan Ys., M. Pd.
Minggu, 15 Mei 2022
Artikel
KETIKA WAKTU ITU DATANG
Pembelajaran di dalam kelas banyak kisah dan pengalaman menarik yang kita alami bersama anak didik dengan beragam materi dan metode pembelajaran. Saya seorang guru mata pelajaran Sosiologi SMA, mengajar di kelas XII IPS, dimana dalam pelajaran ini terkadang beberapa siswa menganggap sepele karena materinya tidak serumit pelajaran lainnya. Untuk merubah mindset siswa-siswi kami terhadap pelajara ini kami membuat suatu perubahan atau terobosan yang sesuai dengan materi di kelas XII yaitu Penelitian Sosial. Materi ini kami sandingkan dengan pengabdian masyarakat atau praktek di masyarakat dengan menerapkan teori-teori yang sudah diajarkan di dalam kelas setelah beberapa bulan diajarkan. Kegiatan ini sangat berguna bagi mereka nantinya ketika mereka sudah bersentuhan dengan masyarakat.
Kegiatan pengabdian masyarakat dalam materi penelitian sosial sangat ditunggu-tunggu dan sangat disukai oleh siswa-siswi kami. Mereka sudah mendapatkan cerita pengalaman dari kakak tingkatnya. Banyak pengalaman positif yang sudah mereka dapatkan melalui kegiatan ini.
Materi penelitian sosial ketika di dalam kelas, siswa diajarkan bagaimana mereka bisa membuat angket, bagaimana teknik wawancara serta bagaimana cara membuat sebuah makalah setelah kegiatan selesai dilaksanakan. Disinilah letak menariknya, teori yang didapatkan dibawa langsung praktek ke masyarakat. Untuk kegiatan praktek ini kami namakan Pensos (Penelitian Sosial).
Kegiatan praktek ke masyarakat yang disesuaikan dengan materi saya rancang dengan sesama guru sosiologi semenarik mungkin dan tidak ada waktu yang terbuang begitu saja. Rancangan awal pembelajaran ini kami mengajak siswa menggalang sembako. Dikumpulkan secara sukarela tanpa paksaan. Kemudian guru menyiapkan angket atau daftar wawancara yang akan diisi masing-masing kelompok. Kemudian dilanjutkan dengan mempresentasikan hasil kerja masing-masing kelompok. Target wawancara siswa kami adalah masyarakat yang berada di kelas bawah atau kategori miskin yang memang benar-benar membutuhkan uluran tangan bagi masyarakat mampu.
Dalam kegiatan pensos sangat menarik bagi siswa karena diajak langsung menerapkan teori yang diajarkan di kelas. Mereka merasakan kekompakan sesama mereka ketika mereka menyiapkan bantuan sembako yang akan disumbangkan ke masyarakat tempat mereka akan melakukan wawancara.
Untuk persiapan bantuan sembako, mereka siapkan bersama. Setelah bantuan terkumpul mereka secara bersama-sama mengemasnya mejadi sebuah bantuan yang layak diberikan kepada orang yang membutuhkan. Satu kemasan terkadang berisi beras, gula, minyak goreng, susu, mie instan dan pakaian layak pakai. Dalam hal ini siswa-siswi merasakan ternyata dalam hidup kita juga harus berbagi karena diluar sana banyak yang membutuhkan uluran tangan mereka. Kenapa saya katakan demikian karena siswa-siswa kami rata-rata kelas menengah ke atas. Semua mereka tidak pernah merasakan bahwa “hidup itu sulit”. Di situlah sangat terkesannya pembelajaran ini, mereka merasakan yang belum pernah mereka alami dalam hidupnya. Terkadang bantuan bisa terkumpul 150 paket setelah dikemas.
Dalam kegiatan pensos siswa dituntut mampu melakukan wawancara dengan warga dari rumah ke rumah. Sebelumnya telah disiapkan dengan daftar angket dan wawancara serta diselingi masing-masing kelompok memberikan paket sembako setiap rumah yang telah diwawancarai. Sebuah pembelajaran yang menarik dan mengesankan bagi siswa karena dapat mempraktekkan teori yang didapat di dalam kelas.
Setelah kegiatan pensos selesai masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompok mereka sesuai dengan angket yang diberikan. Masing-masing kelompok mendapatkan pengalaman berharga ketika mereka bersentuhan langsung dengan masyarakat. Terkadang mereka mendapatkan cerita mengharukan yang belum pernah mereka alami sebelumnya sebagai bekal bagi kehidupan mereka kelak. Semenjak pembelajaran ini dicetus kegiatan ini sangat disukai oleh siswa-siswi kami. Ada suatu keharuan bagi saya mengingat siswa yang masih duduk dibangku SMA sudah memiliki kepedulian yang tinggi pada masyaakat miskin. Saya merasakan suatu pengalaman berharga dan menarik bagi saya sebagai bekal siswa nantinya.
Afridezi, M.Pd., Guru Sosiologi SMA Cendana Pekanbaru
Saat ini menjabat sebagai Kepala SMA Cendana Pekanbaru. Aktif berproses dalam organisasi kepenulisan Forum Lingkar Pena Riau dan BPP FLP. Beberapa karya buku terbaru, "Serimbun Puisi Hijau: Membaca Laut Pada Kampung yang Hilang", " Kumpulan Cerpen: Lukah yang Tergantung di Dinding", "Sebuah Novel: Anak Air Asin". Penghargaan yang pernah dicapai: Penerima Bantuan Pemerintah Penghargaan Bahasa dan Sastra 2023, Residensi Seniman Riau Terpilih 2023, Penulis Skenario Film Animasi Cerita Rakyat 2022, Penghargaan Bahasa dan Sastra Kategori Tokoh Pendidikan Tahun 2020 dari Balai Bahasa Provinsi Riau, Penghargaan Acarya Sastra dari Kemendikbud Tahun 2019, Teacher Supercamps Skenario Film Tahun 2015 di Bali, Ubud Writer and Readers Festival Tahun 2014 di Bali, dan Anugerah Sagang Tahun 2011. Juri dan narasumber dalam berbagai kegiatan literasi. Di bawah BKA Motion Pictures memproduksi film pendek, digitalisasi visual puisi dan konten pendidikan. Fb/IG/Youtube: Bambang Kariyawan. WA: 08117595971
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar