Membebaskan Belenggu Administratif

Sumber: Dokumentasi SMAS Cendana Mandau


Sekolah dibangun untuk menyediakan beragam kegiatan untuk meraih cita dan mimpi. Untuk meraih itu disusun beragam program yang komprehensif namun fokus pada capaiannya. Capaian sebuah sekolah adalah keberhasilan mewujudkan visi, misi, dan tujuan sekolah. Sekolah yang diimpikan adalah sekolah yang efektif. Lawrenze W. Lezotte (1991) mengatakan bahwa sekolah efektif adalah sekolah yang mampu memiliki dampak pembelajaran untuk mencapai semua misi, menunjukkan adanya kesamaan dalam kualitas. Paradigma sekolah efektif sebenarnya telah lama digaungkan oleh Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Pemerintah No 13 tahun 2015 tentang Standar Pendidikan Nasional (SPN). Nilai utama dari sekolah efektif akan bermula dari ruangan yang kita sebut kelas. Kelas-kelas dari sekolah efektif yang akan menuai prestasi adalah kelas-kelas yang memiliki kebebasan dalam berimajinasi dan berekspresi. Dengan kelas yang seperti itu akan membawa wajah sekolah yang penuh dengan prestasi. Guru bahagia mengajar dan siswa merayakan nikmatnya belajar. Namun apakah kondisi itu bisa sekolah raih bila masih banyak belenggu tanpa sadar yang mencengkram? Ya, belenggu tanpa sadar. Seolah-olah itu biasa, namun ternyata melumpuhkan ruang-ruang gerak untuk menampung prestasi. Apakah belenggu tanpa sadar itu? Belenggu itu menurut penulis adalah belenggu administratif. Terkesan hadir sebagai sebuah regulasi untuk sebuah ketertiban lembaga yang disebut sekolah. Beralasan itulah bentuk standar mengukur keberhasilan sekolah. Semua harus serba terukur. Kita bisa melihat berbagai regulasi pihak luaran sekolah yang berdampak terhadap sekolah dengan hadirnya berbagai kepentingan dengan alasan jaminan mutu sebuah sekolah. Serangkaian kegiatan dimana sekolah harus menyiapkan berbagai instrumen sebagai bentuk evaluasi program sekolah yang telah berlangsung. Kita mengenal program akreditasi, supervisi mutu, penilaian kinerja kepala sekolah, dan berbagai bentuk lain yang menjadikan sekolah sebagai objek penyelenggaraan kegiatan tersebut. Bila dicermati berbagai program yang mengatasnamakan jaminan mutu sekolah memiliki kemiripan antara satu instrumen dengan instrumen lainnya. Terkadang berulang-ulang menyiapkan dokumen yang sama. Bisa dibayangkan berapa waktu energi guru yang harus dialokasikan untuk menyiapkan dokumen yang sepertinya tidak bertitik tersebut? Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk mendukung hadirnya berkas dalam dokumen? Berapa kehilangan kesempatan sekolah untuk melakukan hal yang lebih esensi dalam proses memaksimalkan potensi siswa meraih cita-citanya dan mimpinya bila guru-gurunya masih berkutat mengurusi administrasi yang terus berulang dan berulang. Apakah karena budaya ewuh pekewu dalam Bahasa Jawa sehingga tidak ada yang berani mendobrak kegiatan yang saling tumpang tindih dan berulang dilakukan? Atau malah saling arogan untuk menandakan bahwa inilah kegiatan yang harus dilakukan sekolah agar sekolah itu bermutu dengan segala standar pengukuran administratifnya. Semestinya di fase Merdeka Belajar ini, hal-hal yang bersifat formalis mulai dieliminir. Mari bersama merancang konsepsi dan operasionalisasi yang sebenar memerdekakan. Bermain dan berpikir pada paradigma esensial bukan formalis. Sekolah memerlukan energi besar untuk membuat perubahan besar. Kehadiran Merdeka Belajar adalah aroma parfum yang menggelitik sendi-sendi kaku untuk bebas bergerak menata sekolah melompat lebih jauh. Melepas rantai belenggu administratif yang bersiklus tanpa titik. Pengalaman di lapangan penulis sebagai pengelola sekolah menjaga irama dan aroma merdeka belajar dalam menyikapi beragam regulasi administratif tersebut dengan manajemen skala prioritas target. Target utama capaian visi, misi, dan tujuan sekolah adalah prioritas melalui berbagai program prestasi sekolah. Untuk tagihan administratif dilakukan dengan pola distribusi kerja yang sejalan dengan tugas pokok dan fungsi. Maksudnya hal-hal yang diperlukan dilakukan sejalan dengan kewajiban sebagai guru sehingga tidak terjadi duplikasi penagihan berkas administrasi. Perlu merawat tim solid yang diberi kepercayaan penuh mengerjakan setumpuk berkas administrasi tersebut. Pendekatan teknologi terbaru dalam pengelolaan perlu dilakukan dengan cermat dan cepat. Menggandeng guru-guru dengan kecepatan pemahaman teknologi yang tinggi akan memudahkan proses pengerjaan. Apresiasi atas loyalitaspun perlu menjadi titik perhatian. Itulah pengalaman yang telah dilakukan di sekolah dalam mengantisipasi atas regulasi administratif. Sekali lagi sekolah akan menemukan titik terbaiknya bila diberikan hak merdekanya untuk bermain dan berpikir pada paradigma esensial bukan formalis. 

Tidak ada komentar