Nabawi: Puisi Herru As Syukri



Dini hari Madinah begitu dingin,

udara mengalir pelan tapi sungguh menusuk

hingga ke sum sum tulang

seperti sedang menenangkan hati yang runyam

Kubah hijau tampak di atas sana

tenang, teduh,

cukup untuk membuat dadaku merunduk berkecamuk


Di halaman Nabawi,

manusia datang seperti arus panjang,

semua membawa cinta yang sama.

Melangkah menapaki serambi Raudhah,

udara berubah lembut dan hangat

Di celah makam mu

aku hanya mampu berbisik tertahan

“Assalamualaika yaa Rasulullah…

assalamualaika yaa Habiballah…”


Kata-kata itu singkat,

tapi dadaku merapat sesak,

tangisku pecah di detik yang sama

seperti seluruh rapuhku tersingkap.

Doa-doa yang kususun jauh hari

menguap begitu saja,

tinggal rindu dan malu

Diri kerdil

bukan takut,

melainkan sadar

betapa sungguh jauh akhlak ku 


Waktu terasa tanpa ampun menunggu

askar memberi tanda sedikit bentak

aku tetap diam bergeming

seolah kakiku menolak

meninggalkan karpet hijau ini

hingga akhirnya aku bergerak

karena harus,

bukan karena ingin.


di yaumil akhir nanti,

Bagaimana engkau mengenaliku, ya Rasulullah?

Dari namaku? dari wajahku? atau dari amal yang sering kali kuabaikan?


Mentari pagi mengintip dari celah antara Mizhollāt Nabawi 

mengganti cemas menjadi asa 

semakin terang dan menghangatkan

"wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam sejahtera dengan penghormatan yang sepenuhnya."

Tidak ada komentar